ESKATOLOGI

A. AKHIR ZAMAN
Doktrin akhir zaman merupakan doktrin yang tidak hanya dibicarakan oleh agama Kristen.  Doktrin akhir zaman juga diajarkan dan dipercayai oleh beberapa agama-agama lain.  Jadi, doktrin akhir zaman ini bukan hanya doktrin yang dibahas dalam agama Kristen.  Tetapi sekalipun demikian, ada hal yang menarik dan berbeda dari berbagai pandangan agama tentang doktrin akhir zaman, agama Kristen membahas doktrin ini berdasarkan firman Tuhan, tetapi sekalipun juga demikian di bahas atas dasar Firman Tuhan namun masih ada berbagai pendapat yang berbeda dan bahkan keliru, sedangkan agama lain membahas sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut sendiri.  Dalam agama Kristen doktrin akhir zaman ini telah diberitahukan oleh Allah melalui Firman-Nya yaitu dalam Alkitab.
Dalam pengajaran agama Kristen dikenal dengan istilah eskatologi. Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa:
“Dalam teologi Kristen dikenal istilah “Akhir Zaman” (Yunani Eskaton) istilah ini berpangkal pada kata “Eskatologia” (menjadi Eskatologi) yang berasal dari dua kata Yunani, yaitu Eschatos yang berarti hal-hal yang terakhir dan logos berarti ilmu. Jadi, Eskatologi berarti ilmu tentang akhir zaman”.[1]

Dalam ilmu teologi dikenal dengan istilah eskatologi yang berarti ilmu tentang akhir zaman atau ilmu yang membicarakan tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman ini.  Eskatologi juga adalah bagian dalam pokok ajaran Alkitab yang harus diterima dan dipercayai oleh setiap orang yang percaya kepada Kristus.  Ajaran eskatologi adalah bagian pokok pengajaran Alkitabiah.  Anthony A. Hoekema menyatakan bahwa:
“Istilah eskatologi berasal dari dua kata Yunani eschatos (hal-hal yang terakhir) dan logos (kata-kata, ilmu, atau doktrin), sehingga artinya adalah “doktrin tentang akhir zaman”.  Dalam kaitannya dengan individu, maka yang dibicarakan dalam eskatologi adalah hal-hal seperti kematian fisik, kekekalan, dan sesuatu yang disebut “masa antara” suatu masa atau kondisi di mana kematian seseorang dan sebelum terjadinya kebangkitan akhir.”[2]

 Doktrin eskatologi ialah doktrin yang membahas tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman ini.  Mengenai hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman itu ialah mengenai kematian, kekalan, masa antara dan menyangkut secara keseluruhan yaitu mengenai pemusnahan seluruh isi muka bumi.  R. Soedarmo juga menyatakan bahwa, “Eskatologi adalah bagian dogmatika, yang membicarakan pernyataan Kitab Suci tentang hal-hal yang akan terjadi pada zaman yang terakhir (ta eschata = hal-hal yang terakhir).”[3]  Salah satu pokok ajaran dalam dogmatika ialah doktrin tentang akhir zaman.  Doktrin akhir zaman ini merupakan pernyataan Kitab Suci tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman. 
Louis Berkhof menyatakan bahwa, “Eskatologi ialah salah satu bidang dalam teologi di mana semua bidang lain harus menuju, untuk mencapai kesimpulan akhir.”[4]  Dari seluruh doktrin yang dibicarakan dalam dogma akhir dari semuanya itu ialah doktrin tentang akhir zaman.  Doktrin akhir zaman adalah doktrin yang mengakhiri seluruh doktrin yang dibicarakan mulai dari Doktin Allah, Doktrin Manusia, Doktin Kristus, Doktrin Keselamatan, Doktrin Gereja dan sebagai puncak akhirnya ialah Doktrin tentang Akhir Zaman.  Seluruh doktrin akan menuju kepada doktrin akhir zaman, sebab doktrin akhir zaman mengakhiri semua pembicaraan atau pengajaran yang diajarkan dalam seluruh doktrin yang lain.  Jurgen Moltmann menyatakan bahwa, “from early final till, become not merely at just just cover/conclusion shares, Christianity is problem eschatology, expectancy, see far forwards, and make a move go to final.[5] Dari awal hingga akhir, jadi bukan hanya pada bagian penutup saja, kekristenan adalah soal eskatologi, pengharapan, melihat jauh ke depan, dan bergerak menuju akhir.”
Dalam doktrin akhir zaman ini juga diceritakan tentang apa dan bagaimana hal akhir zaman ini akan terjadi.  Charles C. Ryrie menyatakan bahwa, “eskatologi adalah suatu studi dalam keputus-asaan sebab semua hal akan berakhir dalam kematian-kematian individu dan kematian alam semesta.”[6] Eskatologi ialah studi atau ilmu yang berbicara tentang akhir zaman yaitu tentang akhir segala sesuatu yang ada di muka bumi ini akan mati dan dimusnahkan oleh Sang Pencipta.  Akhir zaman bukanlah hal yang menakutkan bagi orang percaya, tetapi suatu penghiburan besar bagi orang-orang percaya sebab hal ini membawa mereka kepada pembaharuan hidup ke hidup yang kekal yang dinanti-nantikan.
Doktrin akhir zaman bagi orang percaya ialah doktrin yang memberikan penghiburan besar bagi mereka, sebab doktrin ini mengajarkan tentang kedatangan Sang Juruselamat yang kedua kalinya yaitu untuk memberikan hidup kekal bagi mereka yang sudah percaya kepada-Nya dan juga menghukum serta membinasakan orang-orang yang tidak percaya kepadanya. 
Dalam studi akhir zaman ini yang dibicarakan atau diajarkan sesuai dengan Alkitab ialah mengenai ketidakmatian jiwa, kematian tubuh, kedatangan Kristus kedua kali, kebangkitan orang mati, hakuman akhir, penciptaan pembaharuan dan kebahagiaan untuk selama-lamanya dan ketidakbahagian untuk selama-lamanya.  Charles C. Ryrie menyatakan bahwa:
“Studi tentang akhir zaman (hal-hal yang masih bersifat akan datang dari pandangan kita) meliputi pengajaran alkitabiah mengenai keberadaan sesudah kematian tetapi sebelum dibangkitkan, kebangkitan, pengangkatan (pelantikan) gereja, kedatangan Kristus kedua kali, dan Kerajaan seribu tahun.”[7]

Pada waktu akhir zaman, ada kematian tubuh serta kebangkitan dari tubuh tersebut, yaitu persatuan antara tubuh dan jiwa.  Kedatangan Kristus yang kedua kali juga menandakan tentang akhir zaman, di mana Ia datang untuk memberikan hidup kekal kepada anak-anak-Nya dan menghukum orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya.  Bruce Milne menyatakan bahwa, “Inti ajaran Alkitab mengenai akhir zaman ialah kedatangan Tuhan Yesus Kristus dalam kemuliaan Yesus sendiri mengungkapkannya dalam Markus 13:26”.[8]  Jadi, inti ajaran dari seluruh Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai akhir zaman ialah mengenai kedatangan Tuhan Yesus Kristus sendiri.  Pusat dari Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ialah mengenai Kristus.
B.     TUBUH DAN JIWA
Tubuh dan jiwa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam diri manusia semasih ia masih diberikan kesempatan oleh Sang Pencipta untuk berkarya dan menjalani hidup di dunia ini. Pada waktu Allah menciptakan tubuh manusia, dikatakan bahwa Allah membentuk manusia itu menurut gambar dan rupa-Nya, ini merupakan suatu keistimewaan manusia.  Ketika manusia tidak taat kepada Allah dan memberontak melawan Allah maka manusia jatuh di dalam dosa.  Oleh karena kejatuhan manusia dalam dosa inilah sehingga manusia mengalami kematian.  Kematian yang dimaksudkan ialah kematian rohani, mereka tidak bisa mengenal Allah, dan hidup manusia juga akan berakhir dengan kematian jasmani akibat dari dosa tersebut. 
Tubuh manusia mengalami kematian atau binasa, tetapi jiwa tidak mati.  Dalam Alkitab dikatakan bahwa jiwa manusia tetap ada selama-lamanya dan tidak mengalami kematian.  R. Soedarmo menyatakan bahwa:
“Pernyataan Kitab Suci tidak menceraikan tubuh dan jiwa pada manusia untuk merendahkan tubuh dan mengatakan, bahwa tubuh akan binasa sama sekali pada hal jiwa akan merasakan kekekalan. Kekekalan yang bahagia dan kekekalan yang mengerikan akan dirasakan orang selengkapnya, yaitu dengan jiwa dan tubuh. Manusia adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh itu”.[9]

Tubuh dan jiwa adalah dua hal yang tidak terpisahkan, tubuh memang mengalami kematian atau binasa, tetapi hal ini pada akhirnya yaitu pada saat kebangkitan, tubuh dan jiwa akan menyatu kembali.  Jadi, tubuh tidak selama-lamanya binasa, tetapi tubuh dan jiwa sama-sama memiliki kekekalan yaitu kekekalan yang bahagia dan kekekalan yang mengerikan yaitu penghukuman yang kekal selama-lamanya bagi orang yang tidak percaya kepada Kristus dan kehidupan bahagia yang kekal bagi orang-orang percaya yang ada dalam Kristus.  Gladys Hunt menyatakan bahwa, “Allah menghargai tubuh maupun roh. Ketika seorang mati, rohnya pergi ke Allah.  Beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan (2 Kor. 5:8).”[10]
Jiwa manusia setelah kematian tidak mengalami kematian, tetapi pada saat kematian jasmani akan terpisah, tubuh mengalami kebinasaan dalam kuburan sedangkan jiwa tetap ada selama-lamanya.  Theol. Dieter Becker menyatakan bahwa:
“Kesinambungan antara eksistensi manusia sebelum dan sesudah kematian terdapat dalam personalitas yang tak terbinasakan. Karena Allah setia terhadap diri-Nya sendiri dan karena karya-Nya yang kedua terjalin dengan karya-Nya yang pertama, maka kebangkitan bukan penciptaan dari ketidakadaan, melainkan suatu penciptaan dari ciptaan. Kematian bukanlah ketiadaan hubungan, melainkan secara baru memperhadapkan manusia dengan Allah sebagai hakimnya (Rm. 6:23) dan sebagai penolongnya (Fil. 1:23)”.[11]

Allah Sang Pencipta yang telah menciptakan tubuh manusia tidak membinasakan tubuh manusia tersebut demikian juga jiwa, tetapi tubuh dan jiwa manusia pada waktu kebangkitan akan bersatu kembali.  Kematian manusia merupakan akibat daripada dosa dan bukan karena alamiah.  Anthony Hoekema menyatakan bahwa, “Kematian bagi manusia bukanlah aspek alamiah dari ciptaan Allah yang baik, melainkan salah satu akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa.”[12]  Jadi, kematian bukan terjadi karena hal itu alami, tetapi kematian merupakan tanda atau akibat dari kejatuhan manusia di dalam lautan dosa. Kematian menandakan murka Allah akan manusia yang telah jatuh di dalam dosa.  Pada waktu Allah berfirman bahwa ketika manusia memakan buah pohon dalam Taman Eden yaitu buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat mereka akan mati.  Mati dalam hal ini yaitu mereka mengalami kematian rohani dan berakhir dengan kematian jasmani.
Kematian hanya merupakan perpisahan sementara antara tubuh dan jiwa, di mana pada akhirnya nanti tubuh dan jiwa akan disatukan kembali atau hidup kembali.  Welly Pandensolang menyatakan bahwa, “Menurut Alkitab, kematian ialah perpisahan antara tubuh dan roh/jiwa atau keadaan tubuh yang tidak memiliki roh (Yak. 2:26). Tubuh bersifat sementara atau fana (Rm. 6:12), sedangkan jiwa atau roh kekal”.[13]
Kematian hanya merupakan perpisahan antara tubuh dan jiwa manusia.  Tubuh manusia hanya bersifat sementara, tetapi jiwa kekal selama-lamanya dalam arti jiwa tidak mengalami kematian seperti tubuh.  William G. T. Sheed menyatakan bahwa, “Beliefs about the immortality of the soul, and the existence separate from the body after death is a truth that is taught in the Old Testament and the New Testament.[14]  (Keyakinan tentang kekekalan jiwa, dan keberadaannya yang terpisah dari tubuh setelah kematian merupakan kebenaran yang diajarkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)”.  Jiwa tetap ada selama-lamanya, sedangkan tubuh akan mati dan akan bangkit pula pada waktu kebangkitan yaitu pertemuan antara jiwa dan tubuh.  Henry C. Thiessen menyatakan bahwa, “Kamatian jasmani berhubungan dengan tubuh jasmaniah; akan tetapi jiwa bersifat abadi dan oleh karena itu jiwa tidak mati”.[15]  Tubuh manusia setelah kematian akan menjadi debu, dalam arti tubuh manusia kembali kepada tanah dari mana mereka diambil oleh Sang Pencipta.  G. I. Williamson menyatakan bahwa:
“Tubuh manusia setelah mati kembali menjadi debu dan diserahkan kepada kebinasaan, tetapi jiwa mereka (yang tidak mati), karena memiliki subsistensi kekal, secara langsung kembali kepada Allah yang memberikannya.  Jiwa orang-orang benar dijadikan sempurna di dalam kekudusan, diterima ke dalam sorga tertinggi, di mana mereka memandang wajah Allah di dalam terang dan kemuliaan-Nya, sambil menantikan penebusan sempurna bagi tubuh mereka.  Sedangkan jiwa orang-orang fasik dilemparkan ke dalam neraka di mana mereka tetap berada di dalam penyiksaan dan kegelapan, disimpan untuk penghakiman di hari terakhir.”[16]

Pada waktu Allah menciptakan manusia yaitu Allah membentuk mereka dari debu tanah (Kej. 2:7), demikian juga pada waktu manusia mati ia akan kembali menjadi debu, tetapi jiwa tidak mati melainkan kembali kepada Allah.  Ada dua perbedaan mengenai jiwa dalam Alkitab.  Dalam Alkitab dikatakan bahwa jiwa orang-orang benar dijadikan sempurna di dalam kekudusan dan diterima dalam sorga, serta memandang wajah Allah di dalam terang dan kemuliaan-Nya.  Sedangkan jiwa orang-orang yang tidak percaya akan mendapatkan penyiksaan selama-lamanya di dalam neraka.  Lebih lanjut Anthony A. Hoekema menyatakan bahwa, “Pada saat kematian jasmaniah, orang percaya memasuki hadirat Kristus.  Sebaliknya orang yang tidak percaya akan memasuki masa penyiksaan yang dialaminya secara sadar dan mereka akan dilemparkan ke dalam lautan api.”[17]  Setiap orang percaya jiwa mereka akan mendapatkan ketenangan yaitu mereka berada dalam persekutuan dengan Allah, dengan penuh kebahagiaan selama-lamanya, sedangkan bagi orang-orang yang tidak percaya yaitu mereka yang menghujat dan tidak menerima Kristus sebagai Tuhan Juruselamat akan dicampakan ke dalam neraka yaitu tempat penyiksaan selama-lamanya.
Pada akhir zaman, semua manusia yang ada diseluruh muka bumi ini baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya akan dibangkitkan dari kematian yaitu bersatunya tubuh dan roh yang sudah terpisah sebelumnya.  Peter Wongso menyatakan bahwa, “Kebangkitan tubuh adalah kebangkitan seluruhnya dari manusia termasuk roh, jiwa dan tubuh”.[18]  Pada waktu kebangkitan seluruh umat manusia tanpa terkecuali akan dibangkitkan dari kematian.  Jadi, antara tubuh dan jiwa yang sudah terpisah sebelum kebangkitan, akan kembali menjadi satu dan hidup kembali.  Pada akhir zaman yaitu pada waktu kedatangan Kristus kedua kali, tubuh dan jiwa yang sudah terpisah pada waktu kematian akan kembali menjadi satu. 
C.    SOUL-HADES DAN TINGKAT
Dalam Alkitab hanya ada dua tempat yaitu surga dan neraka.  Bagi orang-orang percaya dalam Alkitab dikatakana bahwa jiwa mereka setelah mati langsung masuk dalam surga.  Tetapi, bagi orang-orang yang tidak percaya di dalam Alkitab dikatakan bahwa ketika mereka mati, jiwa mereka langsung masuk ke neraka yaitu tempat penyiksaan selama-lamanya.  Hanya ada dua tempat yaitu tempat kebahagiaan selama-lamanya dan tempat penyiksaan selama-lamanya.  Manusia yang telah diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya tidak akan berakhir dengan kematian.  George Eldon Ladd menyatakan bahwa:
“Hades adalah kata Yunani yang sama dengan Sheol dalam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanian Lama, keberadaan manusia tidak berakhir dengan kematian, tetapi terus hidup di alam “bawah”.  Perjanjian Lama tidak berkata bahwa nyawa atau roh manusia akan turun ke Sheol; manusia terus berada sebagai “bayang-bayang” (rephaim).”[19]

Dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa keberadaan hidup manusia tidak berakhir dengan kematian, dalam arti kematian manusia hanya keterpisahan antara tubuh dan jiwa dan yang akan bersatu kembali pada hari kebangkitan.  Perjanjian Lama menyatakan bahwa jiwa manusia tidak mati seperti tubuh yang mati dan turun ke dalam Sheol yaitu tempat tubuh berada, tempat tersebut dalam Perjanjian Lama yaitu tempat di alam bawah.  Tempat tersebut bisa dipahami sebagai tempat orang setelah meninggal yaitu dalam kuburan.  Tubuh akan masuk ke dalam Hades, tetapi jiwa tidak masuk ke dalamnya sebab jiwa tidak mengalami kematian.  Dalam Perjanjian Baru dinyatakan bahwa ada dua tempat yang berbeda yang ada dalam Hades.  Henry C. Thiessen menyatakan bahwa:
“Perjanjian Baru mengajarkan adanya dua ruangan berbeda yang ada di hades, yaitu satu ruangan untuk orang-orang benar disebut pangkuan Abraham atau firdaus, dan satu ruangan lainnya yang tidak bernama untuk orang-orang fasik, tetapi digambarkan sebagai tempat siksaan atau alam maut”.[20]
Dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengajarkan tentang tempat atau ruangan dalam Hades.  Yang pertama dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa dalam hades ada satu ruangan untuk orang-orang benar atau orang percaya yaitu pangkuan Abraham atau firdaus menuju kepada sorga dan tempat yang kedua yaitu tempat untuk orang-orang yang tidak percaya kepada Sang Pencipta mereka, tempat tersebut digambarkan sebagai tempat siksaan atau alam maut yang kekal selama-lamanya. 
Di dalam sheol atau hades dijelaskan bahwa ada dua tempat dan tempat tersebut ialah tempat orang benar berada dalam pangkuan Abraham menuju kepada sorga dan tempat orang fasik yaitu tempat penyiksaan.  Hal ini ada beberapa bukti dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa hades bukan sorga. Gleason L. Archer mengemukakan bahwa:
Abraham's bosom is not pointing to heaven. Angels do not carry Lazarus to heaven after death, it's a matter to one part of Hades or Sheol, the place of the dead who have been redeemed, "Abraham's side" or in the bosom of Abraham to await the resurrection of their”.[21]  (Pangkuan Abraham bukan menunjuk kepada sorga. Malaikat tidak membawa Lazarus ke sorga sesudah kematiannya, melaikan ke salah satu bagian dari hades atau sheol, yakni tempat orang-orang mati yang telah ditebus, “di sisi Abraham” atau di pangkuan Abraham untuk menanti saat kebangkitan mereka)”.

Hades bukanlah sorga tetapi tempat orang-orang yang sudah mati dan menantikan hari kebangkitan.  Pangkuan Abraham menunjukkan tempat yaitu tempat orang-orang benar dan yang akan masuk ke dalam sorga.  Archibald Thomas Robertson juga mengatakan bahwa, “in Luk. 16:22-31 told about Lazarus, who was in Hades called Paradise or Abraham's bosom.[22] ( di dalam Luk. 16:22-31 diceritakan tentang  Lazarus yang sedang berada di hades yang disebut Firdaus atau pangkuan Abraham.)  Jadi, hal ini sudah jelas bahwa hades menunjukkan tingkat, sebagaimana orang-orang yang sudah mati menantikan kebangkitan.  Orang-orang yang sudah mati berada dalam Hades baik orang benar maupun orang fasik berada dalam dua tempat dalam Hades untuk menantikan kebangkitan.  
Semua orang akan masuk ke hades tanpa terkecuali.  Louis Berkhof menyatakan bahwa, “Sheol-hades sesungguhnya merupakan tempat yang netral, tanpa adanya perbedaan moral, tanpa berkat di satu pihak, tetapi juga tanpa penderitaan di pihak lain, tempat di mana semua orang sama-sama ke sana.”[23]  Jadi, semua orang tanpa terkecuali baik orang benar maupun orang fasik akan menuju ke hades yaitu tempat tubuh mereka tinggal.
Di dalam Alkitab dikatakan bahwa Hades atau Sheol bukan menuju kepada sorga.  Welly Pandensolang menyatakan bahwa:
“Pembuktian secara lengkap menerangkan bahwa Sheol atau hades bukan menuju pada sorga, melainkan tempat orang mati yang berada di pusat bumi. Ini dijelaskan dalam Bilangan 16:33 dan Ef. 4:9. Di dalam Bilangan 16:33, telah diterangkan bahwa orang-orang berdosa yang menerima hukuman Allah dalam Perjanjian Lama masuk ke dalam sheol dan ditutupi oleh bumi”.[24]

Hades atau sheol adalah bukan tempat yang menunjuk kepada sorga, melainkan tempat tersebut ialah tempat orang-orang yang sudah mati.  Dalam Bil. 16:33 dan Ef. 4:9, menjadi bukti yang nyata bahwa Hades atau Sheol bukanlah sorga.  Dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa setiap orang yang menerima hukuman Allah yang mengerikan akan masuk ke dalam sheol dan ditutupi oleh bumi, ini menunjukkan bahwa sheol adalah tempat orang-orang mati.
Information in the paragraph Num. 16:33 wattekas expressed through words, with preterit piel waw consecutive construction imperfeck, the Hebrew grammatical rules that describe an active action and definitely done in the past. The term is derived from the verb wattekas, gauze, which means closing.[25]  (Keterangan di dalam ayat Bil. 16:33 dinyatakan melalui kata wattekas, dengan konstruksi piel preterit waw konsekutif imperfeck, yakni kaidah gramatikal bahasa Ibrani yang menjelaskan suatu tindakan aktif dan pasti yang dilakukan pada masa lampau.  Istilah wattekas berasal dari kata kerja, kasa, yang artinya menutup)”.

Ini mengindikasikan juga adanya tingkat atau waktu sementara yaitu orang-orang yang sudah mati dan yang akan dibangkitkan nantinya pada waktu kebangkitan, dalam Alkitab dikatakan bahwa seluruh umat manusia yang ada di muka bumi ini baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru akan bangkit pada akhir zaman.  Kebangkitan itu akan terjadi pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim atas dunia yang berdosa.  John Alber Bengel menyatakan bahwa:
View of the Christians in Corinth through Paul statement in 2 Cor. 12:2 is as follows: the first level is the air of heaven, where the clouds; The second heaven is the vacuum level, which is where the planets and stars; heaven while the third level is the real heaven, the place that Holy Spirit and spiritual nature, where God the Father and Christ dwells, and where believers and angels living together. [26]  (Pandangan orang Kristen di Korintus melalui pernyataan Rasul Paulus dalam 2 Kor. 12:2 adalah sebagai berikut: sorga tingkat pertama ialah udara, yaitu tempat awan; sorga tingkat kedua ialah hampa udara, yaitu tempat planet-planet dan bintang-bintang; sedangkan sorga tingkat ketiga adalah sorga yang sebenarnya, yaitu tempat yang Mahasuci dan bersifat rohani, tempat Allah Bapa dan Kristus bersemayam, serta tempat orang-orang percaya dan malaikat tinggal bersama)”.
Alkitab menyatakan bahwa orang percaya akan masuk ke dalam sorga yaitu tingkat yang paling tinggi yaitu tempat kediaman Allah, dan mereka memandang wajah Allah dan bersekutu dengan Allah, ini merupakan penghiburan besar bagi orang-orang percaya di mana mereka akan memasuki tempat itu yaitu tempat kebahagiaan selama-lamanya.  Tetapi, orang fasik atau orang durhaka akan segera masuk ke dalam neraka yaitu tempat penyiksaan yang kekal selama-lamanya.  Cleon L. Rogers menyatakan bahwa, “referred to the third heaven in 2 Cor. 12:2 is the supreme heaven, where God's throne.[27]  (sorga tingkat ketiga yang dimaksud dalam 2 Kor. 12:2 ialah sorga yang Mahatinggi, tempat Allah bertakhta)”.  George Eldon Ladd menyatakan bahwa:
“Kata firdaus hanya muncul tiga kali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Lukas, dalam 2 Korimtus 12:2-3 dan dalam Wahyu 2:7, yang menyatakan tempat kediaman Allah. Kita harus menyimpulkan bahwa Yesus tidak memberikan keterangan tentang status kematian orang-orang berdosa, hanya menegaskan bahwa orang-orang benar yang mati adalah bersama Allah.”[28]

Firdaus adalah sorga tempat kediaman Allah Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya.  Dalam Perjanjian Baru ditegaskan bahwa orang-orang benar yaitu mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, pada waktu mereka mati mereka langsung memasuki sorga yaitu tempat kediaman Allah dan bersama-sama dengan Allah dalam sorga.

D.    KEDATANGAN YESUS KRISTUS KEMBALI
Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat bagi umat yang percaya kepada-Nya yaitu umat pilihan-Nya.  Kedatangan Kristus yang pertama ialah untuk menebus dosa umat-Nya dan kedatangan-Nya yang kedua kali ialah untuk memberikan hidup kekal kepada umat-Nya.  Kedatangan Kristus yang kedua kali ini telah digambarkan dalam Perjanjian Baru.  Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa:
“Kedatangan Kristus kelak digambarkan dalam PB dengan 3 kata penting, yaitu Parousia, Epifani, dan Apokaliptik”. Kata Parousia dari kata Yunani Parousia yang berarti kehadiran, kedatangan yaitu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Epifani (Yunani Epiphany) dan Apokaliptik (Yunani Apocalipse), secara khusus kata ini digunakan untuk menyatakan kedatangan Kristus kedua kali (2 Tes. 2:8; 1 Tim. 6:14; 2 Tim. 4:18; Tit. 2:13). Apokaliptik dari kata kerja Apokalypo yang berarti aku buktikan, aku singkapkan, aku nyatakan. Kata ini digunakan untuk menunjuk kepada kedatangan Kristus kembali atau kedatangan-Nya kembali (2 Tes. 1:7; 1 Ptr. 1:7, 13; 4:14).[29]

Hal tentang kedatangan Kristus yang kedua kali ini telah digambarkan dalam Perjanjian Baru, bahwa ketika Ia naik ke surga, Ia juga akan datang kembali seperti yang telah dijanjikan dalam Alkitab.  Derek Prime menyatakan bahwa: “Kristus akan datang kembali seperti yang dijanjikan, pada suatu saat yang tidak diberitahukan kepada kita, dan dengan cara seperti Ia kelihatan naik ke sorga”.[30]  Kedatangan-Nya tidak diberitahukan kepada manusia, tetapi yang pasti bahwa Ia akan datang sesuai dengan yang Ia janjikan.  Cara kedatangan-Nya yaitu sama dengan kenaikan-Nya ke sorga.  Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa, ada tiga hal yang terkait dengan waktu kedatangan Kristus kedua kali: (1). Kedatangan Kristus kembali adalah misteri Allah (Mat. 24:36). (2). Kedatangan Kristus adalah waktu-Nya; (3). Kedatangan Kristus seperti pencuri.[31]  Sungguh benar yang dinyatakan oleh Alkitab bahwa kedatangan-Nya tidak ada manusia yang mengetahui hal itu. 
Dalam sepanjang sejarah kedatangan Kristus yang kedua kali memperoleh kedudukan yang penting.  Anthony Hoekema menyatakan bahwa:
“Sepanjang Alkitab peristiwa kedatangan Kristus yang kedua kali memperoleh kedudukan yang penting.  Sekalipun kedatangan yang pertama dan kedua sering digabungkan dengan begitu erat dalam nubuat Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru menyebut doktrin ini lebih dari tiga ratus kali”.[32]

Dalam sejarah Alkitab baik Perjanjian Lama yang menubuatkan maupun dalam Perjanjian Baru peristiwa kedatangan Kristus yang kedua kali sangat penting dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi.  Dalam Alkitab dikatakan bahwa kedatangan-Nya sama seperti pencuri, dalam arti tidak ada satu pun yang tahu tentang kedatangan-Nya.  Tetapi di sisi lain juga kedatangan Kristus ini tidak boleh disamakan dengan pencuri, sebab jikalau kedatangan pencuri tidak diberitahu sebelumnya.  Tetapi kedatangan Kristus telah diberitakan dalam Alkitab.  Paul Minear menyatakan bahwa:
The coming of Christ is not the same as a thief, because the arrival of it will only make people much richer than before. Denngan Thus, gambara about the thief on the one hand represents the notion that the second coming of Christ can not be known, on the other hand, we must always be ready to welcome the return of Christ.[33]  (Kedatangan Kristus tidaklah sama dengan pencuri, sebab kedatangan tersebut justru akan membuat orang itu jauh lebih kaya daripada sebelumnya. Denngan demikian, gambara tentang pencuri itu di satu pihak mewakili pengertian bahwa kedatangan Kristus yang kedua tidak dapat diketahui, di pihak lain, keharusan kita untuk senantiasa siap menyambut kedatangan Kristus kembali)”.

Maksud dari kedatangan Kristus yang digambarkan sebagai pencuri ialah bahwa tidak ada yang tahu satu manusia pun di muka bumi ini tidak ada yang tahu.  Dan hal ini membuat orang-orang percaya untuk senantiasa menantikan dan menyambut kedatangan Kristus kedua kali.  Lebih lanjut Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa, “ada beberapa cara kedatangan Kristus kembali yang tercatat dalam Alkitab adalah: (1). Dengan segala kekuasaan dan kemuliaan (Mat. 24:30; Mrk. 13:26; Luk. 21:27); (2). Diiringi bunyi sangkakala (1 Tes. 4:16); (3). Di tengah awan-awan di langit (Mrk. 14:62); (4). Seperti Dia naik ke Sorga.[34]
Alkitab menyatakan bahwa tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang tahu tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya.  Selain itu Alkitab katakana bahwa hanya Allah Bapa yang tahu tentang kedatangan-Nya.  “Bahwa sesuai dengan berita Alkitab tidak satupun disebutkan tentang, “tanggal, bulan dan tahun,” akhir zaman atau kedatangan Kristus kembali. Alkitab hanya menegaskan kepastian Kristus datang kembali, soal kapan saatnya tiba itu sepenuhnya adalah ketetapan Bapa dan waktu Bapa sendiri.”[35]  Kedatangan Kristus kembali berbeda dengan kedatangan-Nya yang pertama.  Di dalam Alkitab dikatakan bahwa dalam kedatangan-Nya kembali dipenuhi dengan kekuasaan dan kemuliaan, serta disaksikan seluruh umat manusia, sebagaimana Ia naik ke Sorga.  R. Soedarmo menyatakan bahwa
“Cara Tuhan Yesus Kristus akan datang kedua kalinya. Ia akan datang kembali dengan segala kemuliaan. Tugas untuk mencapai perdamaian antara Allah dan manusia telah diselesakan-Nya dalam hidup-Nya di antara manusia dan dilanjutkan di sebelah tangan kanan Allah Bapa.  Pekerjaan pengumpulan Kerajaan-Nya akan telah selesai kalau Ia akan datang kembali sebagai Kepala umat manusia baru, sebagai Raja yang telah menang untuk meresminkan segala kuasa-Nya, baik di Sorga maupun di atas bumi”.[36]

Kedatangan Kristus yang kedua kali adalah kedatangan yang dipenuhi dengan segala kemuliaan.  Ia datang untuk menyelesaikan tugas perdamaian antara Allah Bapa dan manusia.  Kedatangan-Nya yaitu untuk mengumpulkan umat yang telah ditebus oleh darah-Nya yang mahal.  Kedatangan-Nya yang kedua kali yaitu kedatangan sebagai Kepala seluruh umat yang percaya kepada-Nya.  Kedatangan-Nya juga menyatakan bahwa Dia Raja yang telah menang dan Ia meresmikan segala kuasa-Nya, baik di sorga maupun di bumi.  Harun Hadiwijono menyatakan bahwa:
“Ada perbedaan di antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua.  Ketika Ia datang dalam daging atau menjadi manusia masih banyak hal yang dirahasiakan, sehingga banyak orang yang tidak tahu siapa sebenarnya Dia itu. Banyak orang yang tersandung kepada-Nya, dan lain sebagainya. Akan tetapi kedatangan-Nya yang kedua kali itu akan terjadi di dalam kemuliaan. (1 Tes. 3:13; 4:15).  Segala rahasia pada waktu itu akan terbuka.  Kedatangan-Nya dalam kemuliaan itu akan disaksikan oleh orang di seluruh dunia (Mat. 24:27, 30).”[37]

Kedatangan Kristus yang pertama berbeda dengan kedatangan-Nya yang kedua kali.  Dalam kedatangan-Nya yang pertama Ia datang dengan kehinaan yaitu dilahirkan di kandang domba dan banyak hal yang tidak dapat dipahami pada saat itu, sehingga banyak orang yang tidak mengenal siapa Dia sesungguhnya.  Tetapi, kedatangan-Nya yang kedua kali dalam Alkitab dikatakan bahwa kedatangan yang penuh dengan kemuliaan.  Seluruh umat manusia di muka bumi ini melihat dan menyaksikan kedatangan-Nya.  Kedatangan-Nya yang kedua kali yaitu kedatangan sebagai Raja yang penuh dengan kemuliaan, dan pada waktu kedatangan-Nya kedua kali segala rahasia akan terbuka, salah satunya bahwa seluruh umat manusia melihat Dia sebagai Tuhan yang berkuasa dengan penuh kemuliaan.
Kedatangan Kristus juga merupakan aspek yang sangat penting dalam eskatologi Perjanjian Baru.  Anthony A. Hoekema menyatakan bahwa:
Pengharapan kedatangan Kristus yang kedua kalinya adalah aspek yang paling penting dari eskatologi Perjanjian Baru – sedemikian pentingnya sehingga iman Perjanjian Baru didominasi oleh pengharapan ini. Setiap Kitab Perjanjian Baru mengarahkan mata kita pada kedatangan Kristus kembali dan mendorong kita untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya.[38]

Pusat pembicaraan dalam sejarah Perjanjian Baru ialah mengenai Kristus yang menyangkut tentang kelahiran-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya kembali sebagai tugas yang terakhir dan yang akan Ia laksanakan.  Kedatangan Kristus ini dalam setiap kitab dalam Perjanjian Lama selalu dibicarakan dan ini mengindikasikan bahwa kedatangan-Nya sangat penting bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya.  Ini membawa setiap umat percaya senantiasa siap sedia menyambut kedatangan-Nya.


E.     PERSOALAN ORANG YAHUDI, ANTI-KRIST DAN JUMLAH 666
Dalam pemahaman orang Yahudi ada dua zaman dalam sejarah umat manusia.  Zaman dalam pemahaman orang Yahudi ialah zaman sekarang yaitu menurut mereka zaman yang penuh kejahatan dan zaman yang akan segera datang yaitu zaman keemasan Allah.  Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa:
“Orang Yahudi memahami bahwa mereka hidup pada 2 zaman, yaitu zaman sekarang (seutuhnya jahat) dan zaman yang akan datang (keemasan Allah). Di antara kedua zaman tersebut ada “hari Tuhan” yaitu ketika Allah berkarya dan menghancurkan dunia untuk kemudian membangunnya kembali”.[39]

Persoalan orang Yahudi ialah persolan mengenai zaman dalam dua bagian yaitu zaman yang jahat dan zaman yang akan datang yaitu zaman kebaikan Allah.  Dalam eskatologi orang Yahudi memahami dan mengakui bahwa ada dua zaman dalam sejarah dunia ini di mana pada zaman sekarang ini yaitu zaman yang penuh dengan pembuat-pembuat kejahatan dan zaman keemasan Tuhan, di mana Allah akan menyatakan kemuliaan-Nya dan menghukum orang-orang yang durhaka dan memberikan hidup kekal bagi orang-orang benar.
Dalam kejadian pada akhir zaman, ada beberapa hal yang akan terjadi.  Salah satu yang akan muncul pada saat itu ialah antikristus, yaitu orang-orang yang menyangkal iman kepercayaannya kepada Kristus.  Chris Marantika menyatakan bahwa, “Dalam Alkitab juga dikatakan bahwa, sebelum Ia datang kembali akan ada orang-orang yang berbalik imannya, mereka yang tadinya beriman kepada Kristus menjadi tidak percaya dan menyangkali-Nya, orang-orang seperti ini adalah anti Kristus”.[40]  Dalam Alkitab dikatakan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali akan muncul orang-orang yang menyangkal imannya dan tidak percaya kepada Kristus.  Dalam Alkitab dikatakan bahwa banyak orang yang murtad, yang sebelumnya percaya kepada Kristus dan pada akhirnya mereka menyangkal dan tidak percaya kepada Kristus.  Swindoll Walvoord Pentecost menyatakan bahwa:
“Seorang antikristus bisa punyai dua penegasan dari bahasa Yunani anti. Kata itu bisa berarti “dia yang menentang Kristus” atau “dia yang datang sebagai pengganti Kristus”.  Nah, kata-kata ini tidak terpisah. Kata-kata itu berkelindan, dan yang ini yang datang adalah karya unggul penipuan Satan di dalam mana Satan akan berkata kepada dunia, “Yang ini pangeran damaimu”. Ia bisa mencari jalan keluar bagi kerusuhan politik dunia, dan jika kau menyertakan dirimu kepada wewenang politiknya, ia akan mengadakan pemerintahan damai di sini di bumi”.[41]

Dalam pengertian antikristus dalam bahasa Yunani, bisa diartikan sebagai penentang Kristus atau menyatakan diri sebagai Kristus.  Antikristus akan menyatakan dirinya sebagai Kristus, ia akan memakai hal-hal yang kelihatan nikmat dalam mata manusia, sehingga banyak manusia juga yang akan tersanding dan mengikutinya.  Antikristus akan berusaha melakukan berbagai hal supaya ia bisa berkuasa atas seluruh yang hidup di muka bumi ini. 
Kedatangan antikristus ini ialah tanda-tanda tentang akhir zaman.  John F. Walvoord menyatakan bahwa, “ada beberapa tanda-tanda akhir zaman yaitu: kristus-kristus palsu; perang dan kabar-kabar tentang perang; kelaparan; penyakit sampar; gempa bumi; kesyahidan dan penganiayaan; nabi-nabi palsu; meningkatnya kejahatan dan hilangnya kasih yang hangat; Injil Kerajaan”.[42]  Selain daripada antikristus ada juga hal-hal lain yang akan terjadi pada akhir zaman, yaitu perang dunia akan terjadi, kelaparan, penyakit sampar, gempa bumi dan datangnya nabi-nabi palsu yang sama dengan antikristus. 
Antikristus adalah penentang Kristus, ia menentang Kristus sebab ia ingin menjadi sama seperti Kristus dengan caranya, ia melakukan hal-hal yang nikmat dalam penglihatan dunia supaya manusia percaya kepadanya.  Charles C. Ryrie menyatakan bahwa “Antikris adalah sebutan yang paling dikenal sebagai individu yang akan berupaya menguasai dunia dan menentang Kristus dalam masa kesengsaraan dan penganiayaan”.[43]  Usaha daripada antikristus ialah berupaya menguasai dunia, ia ingin menguasai seluruh isi muka bumi ini dalam berbagai bidang politik, dan pada akhirnya nanti antikristus akan menentang Kristus pada masa kesengsaraan dan penganiayaan, ia tidak mengakui Kristus yang sesungguhnya dan bahkan ia mengaku dirinya sebagai Kristus.  Simon J. Kistemaker menyatakan bahwa, “Antikristus akan mengendalikan seluruh kehidupan melalui para pemimpin dunia.  Mereka dengan sukarela dan dengan segenap hati mengabaikan diri dan bangsa mereka di bawah antikristus.”[44]  Antikristus melakukan dengan berbagai hal dengan tujuan untuk menaklukkan dunia di bawah kuasanya.  Ia ingin berkuasa dan menguasai seluruh isi bumi dengan berbagai hal ia lakukan. 
Antikristus mempunyai lambang yaitu 666.  Lambang 666 ini merupakan lambang antikristus yang menyatakan diri sebagai Kristus dan yang ingin berkuasa atas bumi.  Charles C. Ryrie menyatakan bahwa:
“Dalam Wahyu 13 kita menemukan lambang yang terkenal, yang menggambarkan sifat-sifat dan kepribadiannya, yaitu “binatang buas” dan bilangannya, enam ratus enam puluh enam”, dan “tanda atau nama binatang itu”. Banyak spekulasi di seputar bilangan 666 itu. Jelas dari Kitab Wahyu bahwa mereka yang masih hidup dalam masa kesengsaraan akan memahami arti dari bilangan tersebut. Untuk sementara waktu ini, demi amannya kita hanya bisa menganggap bahwa angka 6 berada satu angka di bawah bilangan Allah, yaitu bilngan kesempurnaan – angka 7. Kalau Allah Tritunggal bisa disebutkan dengan bilangan 777, maka bilangan untuk Setan atau Iblis “sang “Bapak”, Antikris “si anak” dan Nabi Palsu (roh kegelapan) adalah 666”.[45]

Dalam Alkitab ada seorang yang terkenal yang melambangkan antikristus yaitu binatang buas dengan bilangannya enam ratus enam puluh enam.  Angka 666 dalam Alkitab adalah lambang tentang antikristus yang akan bangkit pada akhir zaman dan menentang Kristus.  Robert L. Thomas menyatakan bahwa “666 describes a person who has such an evil character which is owned by the rulers of the Roman empire, namely Nero, Caligula, and others. 666's ruler will emerge during the tribulation. [46]  (angka 666 menerangkan seorang pribadi yang memiliki karakter jahat seperti yang dimiliki oleh para penguasa kerajaan Romawi, yaitu Nero, Caligula, dan lain-lain.  Penguasa 666 itu akan muncul pada masa tribulasi).  Pribadi yang memiliki karakter yang jahat ini dalam Alkitab dilambangkan seperti penguasa kerajaan Romawi yaitu Nero dan yang lain yang memiliki karakter yang jahat seperti antikristus. yang akan muncul pada akhir zaman.  John F. Walvoord menyatakan bahwa:
The most relevant is the notion that the Bible is a human number 666 (Rev. 13:18). Reduction of the number six is the perfect number, seven, because God worked for six days and on the seventh day beristirihat. However understanding the numbers, that is certain is that the Bible refers to the Antichrist 666 single that appeared on the future, namely the tribulation period (1 Jn. 2:18; Why. 13:18). [47]  (Pengertian yang paling relevan ialah bahwa menurut Alkitab angka 666 merupakan bilangan manusia (Why. 13:18).  Angka enam merupakan pengurangan dari angka sempurna, tujuh, sebab Allah bekerja selama enam hari dan beristirihat pada hari ketujuh. Bagaimanapun pengertian angka itu, yang pasti adalah bahwa menurut Alkitab bilangan 666 menunjuk kepada Antikristus tunggal yang muncul pada masa depan, yaitu masa tribulasi (1 Yoh. 2:18; Why. 13:18)”.

Bilangan 666 merupakan bilangan manusia yang melambangkan tentang seorang pribadi yang memiliki karakter yang jahat.  Ada berbagai pandangan para ahli tentang pengertian angka tersebut.  Angka 666 ini dalam Alkitab benar-benar menunjuk kepada pribadi antikristus yang akan muncul pada akhir zaman.  Dwight Pentecost menerangkan bahwa:
“Apabila tampil sebagai kepala pemerintahan dunia si pendurhaka (antikristus) itu akan mendirikan ekonomi satu dunia. Binatang itu tidak saja menuntut penyerahan mutlak kekuasaaan politik, tetapi juga penyerahan mutlak wewenang ekonomi sehingga tidak ada orang yang bisa membeli atau menjual apa pun kecuali mereka yang mengenakan tanda penyerahan kepada wewenangnya, yaitu bilangan 666”.[48]
Ketika antikristus menjadi kepala pemerintahan dunia, ia akan mendirikan usaha satu ekonomi dalam seluruh dunia.  Orang durhaka ini sungguh-sungguh menuntut semua kekuasaan politik dan ia dengan usaha ingin menguasai seluruh bidang dalam seluruh dunia, dalam arti hanya dia yang berkuasa dalam bidang apa pun di seluruh dunia.  Antikristus bisa dikatakan bahwa dia adalah pemimpin dunia yang menguasai seluruh dunia dalam bidang politik.  William W. Menzies dan Stanley M. Horton menyatakan bahwa,
“Pemimpin duniawi dari masa kesengsaraan besar, musuh utama Kristus ialah Antikristus.  Dalam bahasa Yunani kata “anti” mempunyai makna pokok “sebagai pengganti”, bahkan “melawan”, ia tidak akan menyebut dirinya sendiri antikristus – ia akan menyatakan bahwa dialah Kristus yang sesungguhnya.”

Antikristus tidak menyatakan bahwa dia adalah antikristus, melainkan ia menyatakan dirinya bahwa dia adalah Kristus.  Pada akhir zaman yang akan datang hanya ada dua golongan orang yaitu orang benar dan orang fasik yang memiliki nasib masing-masing.  Jeff Hammond dan Annete Hammond menyatakan bahwa:
“Manusia yang hidup sampai saat Kristus kembali hanyalah 2 golongan: (a). Gereja sempurna yang diangkat bersama orang percaya sejak Adam yang dibangkitkan dalam kebangkitan pertama; (b). Segala orang yang menerima angka 666.  Nasib penerima 666 jelas sekali dalam Alkitab, mereka dibinasakan dalam kedatangan Yesus (2 Tes. 1:7-10).”[49]

Dalam Alkitab dikatakan bahwa seluruh orang yang menerima angka 666 tersebut dari antikristus akan dibinasakan.  Hadia bagi mereka yang menerima tanda 666 ini adalah kebinasaan dan penyiksaan untuk selama-lamanya.
F.     WAKTU ANTI-KRIST
Antikristus adalah penentang Kristus atau yang menyatakan dirinya sebagai Kristus dan bahwa dia adalah Allah yang berkuasa atas seluruh bumi.  Waktu antikristus ialah waktu yang mereka pergunakan untuk menganiaya umat Allah yang percaya kepada Tuhan.  Mereka berusaha untuk berkuasa atas orang-orang beriman yang percaya kepada Tuhan.  Dalam Alkitab berbagai macam yang akan terjadi pada waktu akhir zaman, terutama tentang kedatangan antikristus.  Anthony A. Hoekema menyatakan bahwa:
Dalam periode tujuh tahun ini, sementara gereja masih berada di sorga, sejumlah peristiwa akan terjadi di bumi: (1). Masa kesengsaraan sebagaimana telah dinubuatkan dalam Daniel 9:27 akan digenapi; setengah dari masa itu disebut masa kesusahan besar (great tribulation); (2). Antikristus (binatang yang muncul dari dalam laut) akan memulai pemerintahannya yang sangat kejam – suatu pemerintahan yang pada akhirnya menuntut manusia untuk menyembahnya sebagai Allah; (3). Penghakiman besar-besaran akan melanda seluruh bumi, termasuk sebagian dari orang-orang yang tidak percaya yang berada dalam gereja; (4). Sejumlah umat pilihan dari bangsa Israel akan diselamatkan, bersama-sama dengan sejumlah besar orang-orang non-Israel; (5). Raja-raja bumi, bala tentara binatang itu, dan nabi palsu akan bersatu untuk menganiaya umat Allah.[50]

Dalam Alkitab dikatakan bahwa pada waktu gereja masih berada di sorga, sejumlah peristiwa-peristiwa akan terjadi di muka bumi ini.  Masa kesengsaraan di bumi yang telah dinubuatkan dalam Kitab Daniel akan terjadi pada masa itu, masa ini disebut masa kesusahan besar.  Jika pada mulanya antikristus memulai pekerjaannya dengan melakuakn perbuatan-perbuatan yang kelihatan baik dalam pandangan manusia, kini saatnya ia akan menyatakan diri dan membentuk pemerintahannya yang sangat kejam.  Pemerintahannya yang sangat kejam ini akan berakhir dengan manusia menyembah dia sebagai Allah.  Masa penghakiman besar-besaran akan terjadi di seluruh dunia, dan seluruh raja-raja bumi akan bersatu dengan tentara binatang itu serta nabi-nabi palsu untuk menganiaya umat Allah.  Mereka bersatu untuk memperoleh kekuatan dalam menganiaya umat yang percaya kepada Tuhan.  Usaha ini dilakukan dengan cara bekerja sama dengan pihak-pihak yang lain. 
Dalam Alkitab telah dinyatakan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, akan didahului oleh kedatangan antikristus, yaitu orang-orang yang murtad dan tidak percaya kepada Kristus sebagai Tuhan.  Derek Prime menyatakan bahwa, “Pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kalinya akan akan didahului dengan datangnya banyak orang antikristus (1 Yoh. 2:18). Banyak orang akan murtad dan ajaran-ajaran palsu akan bertambah-tambah”.[51]  Waktu kedatangan Kristus akan didahului dengan berbagai-bagai kejahatan.  Banyak orang yang murtad, yang sebelumnya mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, tetapi pada akhirnya mereka akan murtad dan menjadi penentang-penentang Kristus.  Mereka tidak mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka dan bahkan mereka menyatakan bahwa mereka adalah Kristus.
Antikristus selalu berusaha untuk mengupayakan sebuah kesatuan dunia.  Antikristus menginginkan supaya dunia bersatu dalam menyembahnya dia sebagai Allah yang benar.  Charles C. Ryrie menyatakan bawa “Antikris akan mengupayakan sebuah kesatuan di dunia dengan hanya satu agama dunia, satu sistem ekonomi dunia, dan satu pemerintahan dunia”.  Tujuan antikris ialah “damai demi apa pun 1 Tes. 5:3.”[52]  Salah satu upaya atau usaha daripada antikristus ialah menyatukan dunia menjadi satu agama dunia yaitu agama yang menyembah kepadanya dan antikristus juga mengupayakan supaya segala sesuatu bersatu baik dalam bidang ekonomi dan juga dalam bidang pemerintahan.  Motto daripada antikristus ialah “damai demi apa pun 1 Tes. 5:3”, hal ini akan dinyatakan oleh antikristus yang kelihatan baik demi kedamaian, tetapi di sisi lain tujuan ini akan membawa kepada kebinasaan.
Iblis adalah antikristus yaitu penentang-penentang dan penganiaya umat yang percaya kepada Kristus.  Derek Prime menyatakan bahwa:
“Iblis adalah musuh besar Allah dan manusia, yang menentang segala yang baik dan membuat bertambah-tambah segala yang jahat.  Ia sudah dikalahkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Kekalahan ini akan diselesaikan kepada semua orang pada akhir zaman.”[53]
Karakter daripad antikristus ialah penentang segala yang baik.  Waktu antikristus memerintah, ia akan menentang segala sesuatu yang baik dan benar, ia menyatakan dirinya bahwa hanya dia yang benar dan baik dan di luar daripada dirinya tidak ada yang baik, sehingga hal-hal yang baik yang datang dari luar dirinya akan ditentang.  Dalam menyatukan dunia, antikristus akan memaksa seluruh umat manusia untuk menyembah kepadanya.  David Breese & Thomas N. Davis menyatakan bahwa, “Agama Antikristus bersifat represif sebab setiap orang yang tidak menyembah binatang itu akan dibinasakan secara kejam dan tidak manusiawi (Why. 13:10)”.[54]  Agama yang dibentuk oleh antikristus adalah agama yang mengekang yaitu memaksa dan setiap orang yang tidak menyembah kepadanya akan dibinasakan secara kejam dan tidak manusiawi.  Kekejaman ini akan terjadi pada waktu antikristus menyatakan dirinya yang sesungguhnya.  Antikristus akan menindas setiap orang yang tidak tunduk kepadanya.  Harold Wilmington menyatakan bahwa:
According to the Bible impending doom that have never experienced this weary world. And although the period of time in the future is just a short, period of time it will destroy the earth's population more than all the other plagues which were merged into one. [55]  (Menurut Alkitab akan datang malapetaka yang belum pernah dialami dunia lelah ini. Dan meskipun kurun waktu di masa mendatang ini hanya pendek saja, kurun waktu itu akan memusnahkan lebih banyak populasi bumi daripada semua malapetaka lain yang digabung menjadi satu.)

Hal yang akan terjadi pada waktu antikristus adalah hal yang tidak pernah terjadi dalam dunia ini.  Hal ini sangat mengerikan sebab manusia tidak pernah mengalami hal yang akan terjadi pada waktu antikristus itu datang.  Yang pada awalnya kelihatan baik kini akan menjadi penyiksaan atas manusia.  Chris Marantika menyatakan bahwa:
“Pada mulanya semuanya kelihatan berlangsung dengan baik. Seorang manusia tampil untuk menjadi pemimpin dan memerintah di dunia, dan setiap orang menganggap orang itu baik. Dia akan menjadi pemerintah di atas dunia. Tetapi dia yang kelihatan baik dan pandai itu, hatinya sudah dikuasai setan, sebab dialah Anti Kristus”.[56]

Pada mulanya sistem pemerintahan antikristus ini memang sangat kelihatan baik, tetapi pada ujung-ujungnya akan membawa kepada penyiksaan yang dia lakukan sendiri atas seluruh manusia.  Penampilan antikristus pada mulanya adalah menampilan yang sangat baik dan menarik hati manusia sehingga banyak manusia yang tersandung dan ikut menyembah dia sebagai tuhannya.  Ia yang kelihatan baik dan pandai, tetapi hatinya telah dikuasai oleh iblis dan dia adalah antikristus.
Dalam Alkitab juga antikristus dinamakan sebagai orang durhaka.  Tj. Boersma menyatakan bahwa:
“Yang dimaksud dengan manusia durhaka dalam 2 Tes. 2 ialah si anti-Kristus yang akan menyatakan diri sebagai Allah.  Ia akan duduk di Bait Allah. Ia akan muncul dari gelombang anarki. Pada saat itu semua orang yang benar-benar percaya sudah diangkat ke sorga.”[57]

Orang durhaka yang dimaksud dalam 2 Tim. 2 ialah antikristus yang akan menyatakan dirinya sebagai Allah.  Ia akan melakukan hal-hal yang mungkin dalam mata manusia kelihatan baik, tetapi perbuatannya ini sesungguhnya telah dikuasai oleh iblis yaitu pembuat kejahatan yang keji di mata Allah Sang Pencipta.  Ada berbagai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada waktu kedatangan antikristus.  K. Price Walter menyatakan bahwa:
There are eight events at the coming of the antichrist, namely: (a). anger; (b). violence; (c). underestimate God Yahweh; (d). pollution of the temple; (e). statue in the temple; (f). a great persecution against the Jews; (g). declare themselves as gods; and (h). defeated by saints. [58]  (Ada delapan peristiwa-peristiwa pada waktu kedatangan antikristus, yaitu: (a). murka; (b). kekerasan; (c). meremehkan Allah Yahweh; (d). pencemaran terhadap bait suci; (e). patung di dalam bait suci; (f). penganiayaan yang hebat terhadap bangsa Yahudi; (g). menyatakan diri sebagai allah; dan (h). dikalahkan oleh orang-orang kudus)”.

Seluruh peristiwa-peristiwa yang akan datang pada waktu kedatangan antikristus melambangkan bahwa tidak ada satu pun hal baik yang akan terjadi pada saat itu.  Semua yang diperbuat oleh antikristus adalah usaha untuk menentang Allah Sang Pencipta.  Ia menghina Allah Yahweh dan menghina segala sesuatu yang baik atau suci serta menganiaya bangsa-bangsa Yahudi dengan hebat dan ia menyatakan diri sebagai Allah, dan usaha mereka ini akan dikalahkan oleh orang-orang kudus yaitu umat yang percaya kepada Allah Khalik langit dan bumi. 
Waktu antikristus ini adalah waktu di mana ia menyatakan dirinya yang sesungguhnya, dia adalah penentang Kristus.  John F. Walvoord menyatakan bahwa, “Ia adalah “anti” karena ia melawan Kristus dan berusaha menggantikan Kristus karena ia ditawarkan oleh Iblis kepada dunia sebagai yang menggantikan Allah.”[59]  Antikristus datang untuk melawan Kristus dan ia berusaha untuk menggantikan kedudukan Kristus.  Ini mengindikasikan bahwa pada zaman akhir akan banyak hal yang terjadi di atas muka bumi ini.  Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa, “Pada akhir zaman akan datang ancaman besar dan bahaya.”[60]  Yang terjadi pada akhir zaman bukan hanya mengenai kedatangan antikristus melainkan juga terjadi kemerosotan moral yang hebat.

DAFTAR PUSTAKA
Archer, Gleason L., Encyclopedia of Bible Difficulties. Grand Rapisd: Zondervan Publishing House. 1982.

Becker, Theol. Dieter., Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1996.

Bengel, John Alber., Bengel’s New Testament Commentary. Grand Rapids: Kregel Publications. 1981.

Berkhof, Louis., Teologi Sistematika Vol. 6: Doktrin Akhir Zaman. Surabaya: Momentum. 2008.

Borsma, Tj., Alkitab Bukan Teka-Teki: Ulasan Kristis Tafsiran Nubuat Akhir Zaman. Surabaya: Momentum. 2000.

Breese, David & Thomas N. Davis., Agama Dunia Yang Akan Datang. Dalam Harmagedon. Batam: Gospel Press. 2003.

Hadiwijono, Harun Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1999.

Hammond, Jeff & Annete Hammond., Peta Zaman: Suatu Pelajaran Mengenai Rencana Allah Dari Kekal Sampai Kekal dan Susunan Peristiwa-peristiwa Akhir Zaman. Jakarta: Yayasan Pekabar Injil “Immanuel”. 1991.

Hoekema, Anthony A., Alkitab dan Akhir Zaman. Surabaya: Momentum. 2004.

Hunt, Gladys., Pandangan Kristen Tentang Kematian. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.

Kistemaker, Simon J., Tafsiran Kitab Wahyu. Surabaya: Momentum. 2009.

Ladd, George Eldon., Teologi Perjanjian Baru. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 1999.

Marantika, Chris., Kepercayaan dan Kehidupan Kristen. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia. 1996.

Milne, Bruce., Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen. Jakarta: Gunung Mulia. 2009.

Minear, Paul., Christian Hope and the Second Coming. Philadelphia: Westminster. 1954.

Moltmann, Jurgen., Theology of Hope. New York: Harper and Row. 1967.

Owens, John Jeseph., Analitycal Key to the Old Testament. Grand Rapisd: Baker Book House. 1999.

Pandensolang, Welly., Eskatologi Biblika: Tinjauan Alkitabiah Tentang Akhir Zaman. Yogyakarta: Andi Anggota IKAPI. 2013.

Pentecosct, Dwight., Si Antikristus: Siapa Pemimpin Dunia Berikut? Dalam Jalan Menuju Armagedon. Batam: Interaksasa. 2000.

Pentecost, Swindoll Walvoord., Pengertian Alkitabiah Mengenai Nubuatan dan Kejadian-Kejadian di Akhir Zaman: Jalan Menuju Armageddon. Batam: Interaksara. 2000.

Prime, Derek., Tanya Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan Ilmuwan. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih. 2001.

Robertson, Archibald Thomas., Word Pictures in the New Testament. Nashville: Broadman Press. 1930.

Rogers, Cleon L., The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament. Grand Rapids: Zondervan Publishing House. 1998.

Ryrie, Charles C., Detik-Detik Akhir Menjelang Harmagedon. Batam: Gospel Press. 2000.

                   ., Teologi Dasar 2: Panduan Populer Untuk Memahami Kebenaran Alkitab. Yogyakarta: Yayasan Andi. 1968.

Shedd, William G. T., The Doctrin Of Endless Punishment. New York: Scribner. 1886.

Soedarmo, R., Ikhtisar Dogmatika. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2011.

Taunaumang, Calvyn., Menguak Kebohongan Akhir Zaman. Bandung: Bina Media Informasi. 2010.

Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas. 1997.

Thomas, Robert L., Revelation 8-22. An Exegetical. Chicago: Moody Press. 1995.

Walter, K. Price., The Coming Antichrist. Chicago: Moody Press. 1974.

Walvoord, John F., Penggenapan Nubuat Masa Kini – Zaman Akhir. Malang: Gandum Mas. 1996.
                      ., The Revelation of Jesus Christ. Chicago: Moody Press. 1981.

Williamson, G.I., Pengakuan Iman Westminster. Surabaya: Momentum. 2006.

Willmington, Harold., Guide to the Bible. Wheaton. Ill: Tyndale House. 1981.

Wongso, Peter., Pengakuan-Pengakuan Iman Kristen. Malang: Sekolah Alkitab Asia Tenggara. 1998.




[1]Calvyn Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 34.

[2]Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 1.

[3]R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, cet-17, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h.248.

[4]Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol. 6: Doktrin Akhir Zaman, cet. 7, (Surabaya: Momentum, 2008), h. 9.

[5]Jurgen Moltmann, Theology of Hope, (New York: Harper and Row, 1967), pg. 16.

[6]Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2: Panduan Populer Untuk Memahami Kebenaran Alkitab, (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1968), h. 247.

[7]Ibid, h. 247-248.

[8]Bruce Milne, Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen, cet. 3, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), h. 349.

[9]R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, cet-17, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h. 256.

[10]Gladys Hunt, Pandangan Kristen Tentang Kematian, cet. 6, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), h. 40.

[11]Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat, cet. 3, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), h. 197.

[12] Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 1.

[13]Welly Pandensolang, Eskatologi Biblika, cet. 7, (Yogyakarta: Andi Anggota IKAPI, 2013), h. 89.

[14]William G. T. Shedd, The Doctrin Of Endless Punishment, (New York: Scribner, 1886), h. 612.

[15]Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, cet. 4, (Malang: Gandum Mas, 1997), h. 521.

[16]G.I. Williamson, Pengakuan Iman Westminster, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2006), h. 389.

[17] Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 525.

[18]Peter Wongso, Pengakuan-Pengakuan Iman Kristen, cet. IV, (Malang: Sekolah Alkitab Asia Tenggara, 1998), h. 23.

[19]George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, cet. 1, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), h. 256.

[20]Henry C. Thiessen, Theology Sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1992), h. 591.

[21]Gleason L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, (Grand Rapisd: Zondervan Publishing House, 1982), pg. 367.

[22] Archibald Thomas Robertson, Word Pictures in the New Testament, (Nashville: Broadman Press, 1930), pg. 222.

[23]Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol. 6: Doktrin Akhir Zaman, cet. 7, (Surabaya: Momentum, 2008), h.

[24]Welly Pandensolang, Eskatologi Biblika: Tinjauan Alkitabiah Tentang Akhir Zaman, Cet. 7, (Yogyakarta: Andi Anggota IKAPI, 2013), h. 89.

[25]John Jeseph Owens, Analitycal Key to the Old Testament, (Grand Rapisd: Baker Book House, 1999), 653.

[26]John Alber Bengel, Bengel’s New Testament Commentary, (Grand Rapids: Kregel Publications, 1981), pg. 330-331.

[27]Cleon L. Rogers, The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament, (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1998), pg. 417.

[28]George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, cet. 1, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), h. 257-258.

[29] Calvyn Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 36-37.

[30]Derek Prime, Tanya Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan Ilmuwan, Cet. 5, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), h. 168.

[31]Calvyn Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 45-48.

[32]Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 526.

[33]Paul Minear, Christian Hope and the Second Coming, (Philadelphia: Westminster, 1954), pg. 135-136.

[34] Calvyn Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. h. 42.

[35]Ibid., h. 55.

[36]R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, cet-17, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h.253-254

[37]Harun Hadiwijono, Iman Kristen, cet. 12, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), h. 479.

[38] Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, Cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 117.

[39]Calvyn Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 49.

[40] Chris Marantika, Kepercayaan dan Kehidupan Kristen, Cet. 2, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia, 1996), h. 154.

[41]Swindoll Walvoord Pentecost, Pengertian Alkitabiah Mengenai Nubuatan dan Kejadian-Kejadian di Akhir Zaman: Jalan Menuju Armageddon, (Batam: Interaksara, 2000), h. 111.

[42]John F. Walvoord, Penggenapan Nubuat Masa Kini – Zaman Akhir, Cet. 1, (Malang: Gandum Mas, 1996), h. 283-285.

[43]Charles C. Ryrie, Detik-Detik Akhir Menjelang Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2000), h. 197.

[44]Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2009), h. 515.

[45] Charles C. Ryrie, Detik-Detik Akhir Menjelang Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2000), h. 199.

[46]Robert L. Thomas, Revelation 8-22, An Exegetical (Chicago: Moody Press, 1995), pg. 184.

[47]John F. Walvoord, The Revelation of Jesus Christ (Chicago: Moody Press, 1981), pg. 209-210.

[48]Dwight Pentecosct, Si Antikristus: Siapa Pemimpin Dunia Berikut? Dalam Jalan Menuju Armagedon, (Batam: Interaksasa, 2000), h. 113-117.

[49]Jeff Hammond & Annete Hammond, Peta Zaman: Suatu Pelajaran Mengenai Rencana Allah Dari Kekal Sampai Kekal dan Susunan Peristiwa-peristiwa Akhir Zaman, cet. 6, (Jakarta: Yayasan Pekabar Injil “Immanuel”, 1991), h. 76-77.

[50] Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, Cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 224.

[51]Derek Prime, Tanya Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan Ilmuwan, Cet. 5, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), h. 169.

[52]Charles C. Ryrie, Detik-Detik Akhir Menjelang Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2000), h. 201-202

[53]Derek Prime, Tanya Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan Ilmuwan, Cet. 5, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), h. 163.

[54] David Breese & Thomas N. Davis, Agama Dunia Yang Akan Datang, Dalam Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2003), h. 180-182.

[55]Harold Willmington, Guide to the Bible, (Wheaton, Ill: Tyndale House, 1981), pg. 833.

[56]Chris Marantika, Kepercayaan dan Kehidupan Kristen, Cet. 2, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia, 1996), h. 157.

[57]Tj. Borsma, Alkitab Bukan Teka-Teki: Ulasan Kristis Tafsiran Nubuat Akhir Zaman, cet. 2, (Surabaya: Momentum, 2000), 195.

[58]K. Price Walter, The Coming Antichrist, (Chicago: Moody Press, 1974), pg. 100-131.

[59]John F. Walvoord, Penggenapan Nubuat Masa Kini – Zaman Akhir, Cet. 1, (Malang: Gandum Mas, 1996), h. 352.

[60]Calvyn Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 49.


Comments