A. AKHIR ZAMAN
Doktrin
akhir zaman merupakan doktrin yang tidak hanya dibicarakan oleh agama
Kristen. Doktrin akhir zaman juga
diajarkan dan dipercayai oleh beberapa agama-agama lain. Jadi, doktrin akhir zaman ini bukan hanya
doktrin yang dibahas dalam agama Kristen.
Tetapi sekalipun demikian, ada hal yang menarik dan berbeda dari
berbagai pandangan agama tentang doktrin akhir zaman, agama Kristen membahas
doktrin ini berdasarkan firman Tuhan, tetapi sekalipun juga demikian di bahas
atas dasar Firman Tuhan namun masih ada berbagai pendapat yang berbeda dan
bahkan keliru, sedangkan agama lain membahas sesuai dengan kepercayaan yang
mereka anut sendiri. Dalam agama Kristen
doktrin akhir zaman ini telah diberitahukan oleh Allah melalui Firman-Nya yaitu
dalam Alkitab.
Dalam
pengajaran agama Kristen dikenal dengan istilah eskatologi. Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa:
“Dalam
teologi Kristen dikenal istilah “Akhir Zaman” (Yunani Eskaton) istilah ini
berpangkal pada kata “Eskatologia” (menjadi Eskatologi) yang berasal dari dua
kata Yunani, yaitu Eschatos yang berarti hal-hal yang terakhir dan logos
berarti ilmu. Jadi, Eskatologi berarti ilmu tentang akhir zaman”.[1]
Dalam
ilmu teologi dikenal dengan istilah eskatologi yang berarti ilmu tentang akhir
zaman atau ilmu yang membicarakan tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir
zaman ini. Eskatologi juga adalah bagian
dalam pokok ajaran Alkitab yang harus diterima dan dipercayai oleh setiap orang
yang percaya kepada Kristus. Ajaran
eskatologi adalah bagian pokok pengajaran Alkitabiah. Anthony
A. Hoekema menyatakan bahwa:
“Istilah
eskatologi berasal dari dua kata Yunani eschatos (hal-hal yang terakhir) dan
logos (kata-kata, ilmu, atau doktrin), sehingga artinya adalah “doktrin tentang
akhir zaman”. Dalam kaitannya dengan
individu, maka yang dibicarakan dalam eskatologi adalah hal-hal seperti
kematian fisik, kekekalan, dan sesuatu yang disebut “masa antara” suatu masa atau
kondisi di mana kematian seseorang dan sebelum terjadinya kebangkitan akhir.”[2]
Doktrin eskatologi ialah doktrin yang membahas
tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman ini. Mengenai hal-hal yang akan terjadi pada akhir
zaman itu ialah mengenai kematian, kekalan, masa antara dan menyangkut secara
keseluruhan yaitu mengenai pemusnahan seluruh isi muka bumi. R.
Soedarmo juga menyatakan bahwa, “Eskatologi adalah bagian dogmatika, yang
membicarakan pernyataan Kitab Suci tentang hal-hal yang akan terjadi pada zaman
yang terakhir (ta eschata = hal-hal yang terakhir).”[3] Salah satu pokok ajaran dalam dogmatika ialah
doktrin tentang akhir zaman. Doktrin
akhir zaman ini merupakan pernyataan Kitab Suci tentang hal-hal yang akan
terjadi pada akhir zaman.
Louis Berkhof menyatakan
bahwa, “Eskatologi ialah salah satu bidang dalam teologi di mana semua bidang
lain harus menuju, untuk mencapai kesimpulan akhir.”[4] Dari seluruh doktrin yang dibicarakan dalam
dogma akhir dari semuanya itu ialah doktrin tentang akhir zaman. Doktrin akhir zaman adalah doktrin yang
mengakhiri seluruh doktrin yang dibicarakan mulai dari Doktin Allah, Doktrin
Manusia, Doktin Kristus, Doktrin Keselamatan, Doktrin Gereja dan sebagai puncak
akhirnya ialah Doktrin tentang Akhir Zaman.
Seluruh doktrin akan menuju kepada doktrin akhir zaman, sebab doktrin akhir
zaman mengakhiri semua pembicaraan atau pengajaran yang diajarkan dalam seluruh
doktrin yang lain. Jurgen Moltmann menyatakan bahwa, “from early final till, become not merely at
just just cover/conclusion shares, Christianity is problem eschatology,
expectancy, see far forwards, and make a move go to final.[5]
Dari awal hingga akhir, jadi bukan hanya pada bagian penutup saja, kekristenan
adalah soal eskatologi, pengharapan, melihat jauh ke depan, dan bergerak menuju
akhir.”
Dalam
doktrin akhir zaman ini juga diceritakan tentang apa dan bagaimana hal akhir
zaman ini akan terjadi. Charles C. Ryrie menyatakan bahwa,
“eskatologi adalah suatu studi dalam keputus-asaan sebab semua hal akan
berakhir dalam kematian-kematian individu dan kematian alam semesta.”[6]
Eskatologi ialah studi atau ilmu yang berbicara tentang akhir zaman yaitu
tentang akhir segala sesuatu yang ada di muka bumi ini akan mati dan
dimusnahkan oleh Sang Pencipta. Akhir
zaman bukanlah hal yang menakutkan bagi orang percaya, tetapi suatu penghiburan
besar bagi orang-orang percaya sebab hal ini membawa mereka kepada pembaharuan
hidup ke hidup yang kekal yang dinanti-nantikan.
Doktrin
akhir zaman bagi orang percaya ialah doktrin yang memberikan penghiburan besar
bagi mereka, sebab doktrin ini mengajarkan tentang kedatangan Sang Juruselamat
yang kedua kalinya yaitu untuk memberikan hidup kekal bagi mereka yang sudah
percaya kepada-Nya dan juga menghukum serta membinasakan orang-orang yang tidak
percaya kepadanya.
Dalam
studi akhir zaman ini yang dibicarakan atau diajarkan sesuai dengan Alkitab
ialah mengenai ketidakmatian jiwa, kematian tubuh, kedatangan Kristus kedua
kali, kebangkitan orang mati, hakuman akhir, penciptaan pembaharuan dan
kebahagiaan untuk selama-lamanya dan ketidakbahagian untuk selama-lamanya. Charles
C. Ryrie menyatakan bahwa:
“Studi
tentang akhir zaman (hal-hal yang masih bersifat akan datang dari pandangan
kita) meliputi pengajaran alkitabiah mengenai keberadaan sesudah kematian
tetapi sebelum dibangkitkan, kebangkitan, pengangkatan (pelantikan) gereja, kedatangan
Kristus kedua kali, dan Kerajaan seribu tahun.”[7]
Pada
waktu akhir zaman, ada kematian tubuh serta kebangkitan dari tubuh tersebut,
yaitu persatuan antara tubuh dan jiwa. Kedatangan
Kristus yang kedua kali juga menandakan tentang akhir zaman, di mana Ia datang
untuk memberikan hidup kekal kepada anak-anak-Nya dan menghukum orang-orang
yang tidak percaya kepada-Nya. Bruce Milne menyatakan bahwa, “Inti
ajaran Alkitab mengenai akhir zaman ialah kedatangan Tuhan Yesus Kristus dalam
kemuliaan Yesus sendiri mengungkapkannya dalam Markus 13:26”.[8] Jadi, inti ajaran dari seluruh Alkitab baik
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai akhir zaman ialah mengenai
kedatangan Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pusat
dari Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ialah mengenai Kristus.
B.
TUBUH
DAN JIWA
Tubuh
dan jiwa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam diri manusia
semasih ia masih diberikan kesempatan oleh Sang Pencipta untuk berkarya dan
menjalani hidup di dunia ini. Pada waktu Allah menciptakan tubuh manusia,
dikatakan bahwa Allah membentuk manusia itu menurut gambar dan rupa-Nya, ini
merupakan suatu keistimewaan manusia.
Ketika manusia tidak taat kepada Allah dan memberontak melawan Allah
maka manusia jatuh di dalam dosa. Oleh
karena kejatuhan manusia dalam dosa inilah sehingga manusia mengalami
kematian. Kematian yang dimaksudkan
ialah kematian rohani, mereka tidak bisa mengenal Allah, dan hidup manusia juga
akan berakhir dengan kematian jasmani akibat dari dosa tersebut.
Tubuh
manusia mengalami kematian atau binasa, tetapi jiwa tidak mati. Dalam Alkitab dikatakan bahwa jiwa manusia
tetap ada selama-lamanya dan tidak mengalami kematian. R. Soedarmo menyatakan
bahwa:
“Pernyataan
Kitab Suci tidak menceraikan tubuh dan jiwa pada manusia untuk merendahkan
tubuh dan mengatakan, bahwa tubuh akan binasa sama sekali pada hal jiwa akan
merasakan kekekalan. Kekekalan yang bahagia dan kekekalan yang mengerikan akan
dirasakan orang selengkapnya, yaitu dengan jiwa dan tubuh. Manusia adalah
kesatuan antara jiwa dan tubuh itu”.[9]
Tubuh
dan jiwa adalah dua hal yang tidak terpisahkan, tubuh memang mengalami kematian
atau binasa, tetapi hal ini pada akhirnya yaitu pada saat kebangkitan, tubuh
dan jiwa akan menyatu kembali. Jadi,
tubuh tidak selama-lamanya binasa, tetapi tubuh dan jiwa sama-sama memiliki
kekekalan yaitu kekekalan yang bahagia dan kekekalan yang mengerikan yaitu
penghukuman yang kekal selama-lamanya bagi orang yang tidak percaya kepada
Kristus dan kehidupan bahagia yang kekal bagi orang-orang percaya yang ada
dalam Kristus. Gladys Hunt menyatakan bahwa, “Allah
menghargai tubuh maupun roh. Ketika seorang mati, rohnya pergi ke Allah. Beralih dari tubuh ini untuk menetap pada
Tuhan (2 Kor. 5:8).”[10]
Jiwa
manusia setelah kematian tidak mengalami kematian, tetapi pada saat kematian
jasmani akan terpisah, tubuh mengalami kebinasaan dalam kuburan sedangkan jiwa
tetap ada selama-lamanya. Theol. Dieter Becker menyatakan bahwa:
“Kesinambungan
antara eksistensi manusia sebelum dan sesudah kematian terdapat dalam
personalitas yang tak terbinasakan. Karena Allah setia terhadap diri-Nya
sendiri dan karena karya-Nya yang kedua terjalin dengan karya-Nya yang pertama,
maka kebangkitan bukan penciptaan dari ketidakadaan, melainkan suatu penciptaan
dari ciptaan. Kematian bukanlah ketiadaan hubungan, melainkan secara baru
memperhadapkan manusia dengan Allah sebagai hakimnya (Rm. 6:23) dan sebagai
penolongnya (Fil. 1:23)”.[11]
Allah
Sang Pencipta yang telah menciptakan tubuh manusia tidak membinasakan tubuh
manusia tersebut demikian juga jiwa, tetapi tubuh dan jiwa manusia pada waktu
kebangkitan akan bersatu kembali.
Kematian manusia merupakan akibat daripada dosa dan bukan karena alamiah. Anthony
Hoekema menyatakan bahwa, “Kematian bagi manusia bukanlah aspek alamiah
dari ciptaan Allah yang baik, melainkan salah satu akibat dari kejatuhan
manusia dalam dosa.”[12] Jadi, kematian bukan terjadi karena hal itu
alami, tetapi kematian merupakan tanda atau akibat dari kejatuhan manusia di
dalam lautan dosa. Kematian menandakan murka Allah akan manusia yang telah
jatuh di dalam dosa. Pada waktu Allah
berfirman bahwa ketika manusia memakan buah pohon dalam Taman Eden yaitu buah
pohon pengetahuan yang baik dan jahat mereka akan mati. Mati dalam hal ini yaitu mereka mengalami
kematian rohani dan berakhir dengan kematian jasmani.
Kematian
hanya merupakan perpisahan sementara antara tubuh dan jiwa, di mana pada
akhirnya nanti tubuh dan jiwa akan disatukan kembali atau hidup kembali. Welly
Pandensolang menyatakan bahwa, “Menurut Alkitab, kematian ialah perpisahan
antara tubuh dan roh/jiwa atau keadaan tubuh yang tidak memiliki roh (Yak.
2:26). Tubuh bersifat sementara atau fana (Rm. 6:12), sedangkan jiwa atau roh
kekal”.[13]
Kematian
hanya merupakan perpisahan antara tubuh dan jiwa manusia. Tubuh manusia hanya bersifat sementara,
tetapi jiwa kekal selama-lamanya dalam arti jiwa tidak mengalami kematian
seperti tubuh. William G. T. Sheed menyatakan bahwa, “Beliefs about the immortality of the soul, and the existence separate
from the body after death is a truth that is taught in the Old Testament and
the New Testament.[14]
(Keyakinan tentang
kekekalan jiwa, dan keberadaannya yang terpisah dari tubuh setelah kematian
merupakan kebenaran yang diajarkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)”.
Jiwa tetap ada selama-lamanya, sedangkan tubuh akan mati dan akan
bangkit pula pada waktu kebangkitan yaitu pertemuan antara jiwa dan tubuh. Henry
C. Thiessen menyatakan bahwa, “Kamatian jasmani berhubungan dengan tubuh
jasmaniah; akan tetapi jiwa bersifat abadi dan oleh karena itu jiwa tidak
mati”.[15] Tubuh manusia setelah kematian akan menjadi
debu, dalam arti tubuh manusia kembali kepada tanah dari mana mereka diambil
oleh Sang Pencipta. G. I. Williamson menyatakan bahwa:
“Tubuh
manusia setelah mati kembali menjadi debu dan diserahkan kepada kebinasaan,
tetapi jiwa mereka (yang tidak mati), karena memiliki subsistensi kekal, secara
langsung kembali kepada Allah yang memberikannya. Jiwa orang-orang benar dijadikan sempurna di
dalam kekudusan, diterima ke dalam sorga tertinggi, di mana mereka memandang
wajah Allah di dalam terang dan kemuliaan-Nya, sambil menantikan penebusan
sempurna bagi tubuh mereka. Sedangkan
jiwa orang-orang fasik dilemparkan ke dalam neraka di mana mereka tetap berada
di dalam penyiksaan dan kegelapan, disimpan untuk penghakiman di hari terakhir.”[16]
Pada
waktu Allah menciptakan manusia yaitu Allah membentuk mereka dari debu tanah
(Kej. 2:7), demikian juga pada waktu manusia mati ia akan kembali menjadi debu,
tetapi jiwa tidak mati melainkan kembali kepada Allah. Ada dua perbedaan mengenai jiwa dalam
Alkitab. Dalam Alkitab dikatakan bahwa
jiwa orang-orang benar dijadikan sempurna di dalam kekudusan dan diterima dalam
sorga, serta memandang wajah Allah di dalam terang dan kemuliaan-Nya. Sedangkan jiwa orang-orang yang tidak percaya
akan mendapatkan penyiksaan selama-lamanya di dalam neraka. Lebih lanjut Anthony A. Hoekema
menyatakan bahwa, “Pada saat kematian jasmaniah, orang percaya memasuki hadirat
Kristus. Sebaliknya orang yang tidak
percaya akan memasuki masa penyiksaan yang dialaminya secara sadar dan mereka
akan dilemparkan ke dalam lautan api.”[17] Setiap orang percaya jiwa mereka akan
mendapatkan ketenangan yaitu mereka berada dalam persekutuan dengan Allah,
dengan penuh kebahagiaan selama-lamanya, sedangkan bagi orang-orang yang tidak
percaya yaitu mereka yang menghujat dan tidak menerima Kristus sebagai Tuhan
Juruselamat akan dicampakan ke dalam neraka yaitu tempat penyiksaan
selama-lamanya.
Pada
akhir zaman, semua manusia yang ada diseluruh muka bumi ini baik orang percaya
maupun orang yang tidak percaya akan dibangkitkan dari kematian yaitu
bersatunya tubuh dan roh yang sudah terpisah sebelumnya. Peter
Wongso menyatakan bahwa, “Kebangkitan tubuh adalah kebangkitan seluruhnya
dari manusia termasuk roh, jiwa dan tubuh”.[18] Pada waktu kebangkitan seluruh umat manusia
tanpa terkecuali akan dibangkitkan dari kematian. Jadi, antara tubuh dan jiwa yang sudah
terpisah sebelum kebangkitan,
akan kembali menjadi satu dan hidup kembali. Pada
akhir zaman yaitu pada waktu kedatangan Kristus kedua kali, tubuh dan jiwa yang
sudah terpisah pada waktu kematian akan kembali menjadi satu.
C.
SOUL-HADES
DAN TINGKAT
Dalam
Alkitab hanya ada dua tempat yaitu surga dan neraka. Bagi orang-orang percaya dalam Alkitab
dikatakana bahwa jiwa mereka setelah mati langsung masuk dalam surga. Tetapi, bagi orang-orang yang tidak percaya
di dalam Alkitab dikatakan bahwa ketika mereka mati, jiwa mereka langsung masuk
ke neraka yaitu tempat penyiksaan selama-lamanya. Hanya ada dua tempat yaitu tempat kebahagiaan
selama-lamanya dan tempat penyiksaan selama-lamanya. Manusia yang telah diciptakan oleh Allah
menurut gambar dan rupa-Nya tidak akan berakhir dengan kematian. George
Eldon Ladd menyatakan bahwa:
“Hades
adalah kata Yunani yang sama dengan Sheol dalam Perjanjian Lama. Di dalam
Perjanian Lama, keberadaan manusia tidak berakhir dengan kematian, tetapi terus
hidup di alam “bawah”. Perjanjian Lama
tidak berkata bahwa nyawa atau roh manusia akan turun ke Sheol; manusia terus
berada sebagai “bayang-bayang” (rephaim).”[19]
Dalam
Perjanjian Lama dikatakan bahwa keberadaan hidup manusia tidak berakhir dengan
kematian, dalam arti kematian manusia hanya keterpisahan antara tubuh dan jiwa
dan yang akan bersatu kembali pada hari kebangkitan. Perjanjian Lama menyatakan bahwa jiwa manusia
tidak mati seperti tubuh yang mati dan turun ke dalam Sheol yaitu tempat tubuh
berada, tempat tersebut dalam Perjanjian Lama yaitu tempat di alam bawah. Tempat tersebut bisa dipahami sebagai tempat
orang setelah meninggal yaitu dalam kuburan.
Tubuh akan masuk ke dalam Hades, tetapi jiwa tidak masuk ke dalamnya
sebab jiwa tidak mengalami kematian.
Dalam Perjanjian Baru dinyatakan bahwa ada dua tempat yang berbeda yang
ada dalam Hades. Henry C. Thiessen menyatakan bahwa:
“Perjanjian Baru
mengajarkan adanya dua ruangan berbeda yang ada di hades, yaitu satu ruangan untuk orang-orang benar disebut pangkuan
Abraham atau firdaus, dan satu ruangan lainnya yang tidak bernama untuk
orang-orang fasik, tetapi digambarkan sebagai tempat siksaan atau alam maut”.[20]
Dalam
Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengajarkan tentang tempat
atau ruangan dalam Hades. Yang pertama
dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa dalam hades
ada satu ruangan untuk orang-orang benar atau orang percaya yaitu pangkuan
Abraham atau firdaus menuju kepada sorga dan tempat yang kedua yaitu tempat
untuk orang-orang yang tidak percaya kepada Sang Pencipta mereka, tempat tersebut
digambarkan sebagai tempat siksaan atau alam maut yang kekal selama-lamanya.
Di
dalam sheol atau hades dijelaskan bahwa ada dua tempat dan tempat tersebut
ialah tempat orang benar berada dalam pangkuan Abraham menuju kepada sorga dan
tempat orang fasik yaitu tempat penyiksaan.
Hal ini ada beberapa bukti dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa hades
bukan sorga. Gleason L. Archer mengemukakan
bahwa:
“Abraham's bosom is not pointing to heaven.
Angels do not carry Lazarus to heaven after death, it's a matter to one part of
Hades or Sheol, the place of the dead who have been redeemed, "Abraham's
side" or in the bosom of Abraham to await the resurrection of their”.[21] (Pangkuan Abraham
bukan menunjuk kepada sorga. Malaikat tidak membawa Lazarus ke sorga sesudah
kematiannya, melaikan ke salah satu bagian dari hades atau sheol, yakni
tempat orang-orang mati yang telah ditebus, “di sisi Abraham” atau di pangkuan
Abraham untuk menanti saat kebangkitan mereka)”.
Hades
bukanlah sorga tetapi tempat orang-orang yang sudah mati dan menantikan hari
kebangkitan. Pangkuan Abraham
menunjukkan tempat yaitu tempat orang-orang benar dan yang akan masuk ke dalam
sorga. Archibald Thomas Robertson
juga
mengatakan bahwa, “in Luk. 16:22-31 told about Lazarus, who
was in Hades called Paradise or Abraham's bosom.[22]
( di dalam Luk. 16:22-31
diceritakan tentang Lazarus yang sedang
berada di hades yang disebut Firdaus atau pangkuan Abraham.)”
Jadi, hal ini sudah jelas bahwa hades menunjukkan tingkat, sebagaimana
orang-orang yang sudah mati menantikan kebangkitan. Orang-orang yang sudah mati berada dalam
Hades baik orang benar maupun orang fasik berada dalam dua tempat dalam Hades untuk
menantikan kebangkitan.
Semua
orang akan masuk ke hades tanpa terkecuali.
Louis Berkhof menyatakan
bahwa, “Sheol-hades sesungguhnya
merupakan tempat yang netral, tanpa adanya perbedaan moral, tanpa berkat di
satu pihak, tetapi juga tanpa penderitaan di pihak lain, tempat di mana semua
orang sama-sama ke sana.”[23] Jadi, semua orang tanpa terkecuali baik orang
benar maupun orang fasik akan menuju ke hades yaitu tempat tubuh mereka
tinggal.
Di
dalam Alkitab dikatakan bahwa Hades atau Sheol bukan menuju kepada sorga. Welly
Pandensolang menyatakan bahwa:
“Pembuktian
secara lengkap menerangkan bahwa Sheol atau
hades bukan menuju pada sorga,
melainkan tempat orang mati yang berada di pusat bumi. Ini dijelaskan dalam
Bilangan 16:33 dan Ef. 4:9. Di dalam Bilangan 16:33, telah diterangkan bahwa
orang-orang berdosa yang menerima hukuman Allah dalam Perjanjian Lama masuk ke
dalam sheol dan ditutupi oleh bumi”.[24]
Hades
atau sheol adalah bukan tempat yang menunjuk kepada sorga, melainkan tempat
tersebut ialah tempat orang-orang yang sudah mati. Dalam Bil. 16:33 dan Ef. 4:9, menjadi bukti
yang nyata bahwa Hades atau Sheol bukanlah sorga. Dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa setiap
orang yang menerima hukuman Allah yang mengerikan akan masuk ke dalam sheol dan ditutupi oleh bumi, ini
menunjukkan bahwa sheol adalah tempat orang-orang mati.
“Information in the paragraph Num. 16:33
wattekas expressed through words, with preterit piel waw consecutive
construction imperfeck, the Hebrew grammatical rules that describe an active
action and definitely done in the past. The term is derived from the verb
wattekas, gauze, which means closing.[25] (Keterangan di
dalam ayat Bil. 16:33 dinyatakan melalui kata wattekas, dengan konstruksi piel
preterit waw konsekutif imperfeck, yakni kaidah gramatikal bahasa Ibrani
yang menjelaskan suatu tindakan aktif dan pasti yang dilakukan pada masa
lampau. Istilah wattekas berasal dari kata kerja, kasa, yang artinya menutup)”.
Ini
mengindikasikan juga adanya tingkat atau waktu sementara yaitu orang-orang yang
sudah mati dan yang akan dibangkitkan nantinya pada waktu kebangkitan, dalam
Alkitab dikatakan bahwa seluruh umat manusia yang ada di muka bumi ini baik
dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru akan bangkit pada akhir zaman. Kebangkitan
itu akan terjadi pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim
atas dunia yang berdosa.
John
Alber Bengel menyatakan bahwa:
“View of the Christians in Corinth through Paul statement in 2 Cor. 12:2
is as follows: the first level is the air of heaven, where the clouds; The
second heaven is the vacuum level, which is where the planets and stars; heaven
while the third level is the real heaven, the place that Holy Spirit and
spiritual nature, where God the Father and Christ dwells, and where believers
and angels living together. [26]
(Pandangan orang Kristen
di Korintus melalui pernyataan Rasul Paulus dalam 2 Kor. 12:2 adalah sebagai
berikut: sorga tingkat pertama ialah udara, yaitu tempat awan; sorga tingkat
kedua ialah hampa udara, yaitu tempat planet-planet dan bintang-bintang;
sedangkan sorga tingkat ketiga adalah sorga yang sebenarnya, yaitu tempat yang
Mahasuci dan bersifat rohani, tempat Allah Bapa dan Kristus bersemayam, serta
tempat orang-orang percaya dan malaikat tinggal bersama)”.
Alkitab
menyatakan bahwa orang percaya akan masuk ke dalam sorga yaitu tingkat yang
paling tinggi yaitu tempat kediaman Allah, dan mereka memandang wajah Allah dan
bersekutu dengan Allah, ini merupakan penghiburan besar bagi orang-orang
percaya di mana mereka akan memasuki tempat itu yaitu tempat kebahagiaan
selama-lamanya. Tetapi, orang fasik atau
orang durhaka akan segera masuk ke dalam neraka yaitu tempat penyiksaan yang
kekal selama-lamanya. Cleon L. Rogers menyatakan bahwa, “referred to the third heaven in 2 Cor. 12:2
is the supreme heaven, where God's throne.[27] (sorga tingkat ketiga yang dimaksud
dalam 2 Kor. 12:2 ialah sorga yang Mahatinggi, tempat Allah bertakhta)”. George Eldon Ladd menyatakan
bahwa:
“Kata
firdaus hanya muncul tiga kali dalam
Perjanjian Baru, yaitu dalam Lukas, dalam 2 Korimtus 12:2-3 dan dalam Wahyu
2:7, yang menyatakan tempat kediaman Allah. Kita harus menyimpulkan bahwa Yesus
tidak memberikan keterangan tentang status kematian orang-orang berdosa, hanya
menegaskan bahwa orang-orang benar yang mati adalah bersama Allah.”[28]
Firdaus
adalah sorga tempat kediaman Allah Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala
isinya. Dalam Perjanjian Baru ditegaskan
bahwa orang-orang benar yaitu mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai
Tuhan dan Juruselamat mereka, pada waktu mereka mati mereka langsung memasuki
sorga yaitu tempat kediaman Allah dan bersama-sama dengan Allah dalam sorga.
D.
KEDATANGAN
YESUS KRISTUS KEMBALI
Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat bagi umat
yang percaya kepada-Nya yaitu umat pilihan-Nya.
Kedatangan Kristus yang pertama ialah untuk menebus dosa umat-Nya dan
kedatangan-Nya yang kedua kali ialah untuk memberikan hidup kekal kepada umat-Nya. Kedatangan Kristus yang kedua kali ini telah
digambarkan dalam Perjanjian Baru.
Calvyn Taunaumang menyatakan
bahwa:
“Kedatangan
Kristus kelak digambarkan dalam PB dengan 3 kata penting, yaitu Parousia,
Epifani, dan Apokaliptik”. Kata Parousia dari kata Yunani Parousia yang berarti
kehadiran, kedatangan yaitu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Epifani
(Yunani Epiphany) dan Apokaliptik (Yunani Apocalipse), secara khusus kata ini
digunakan untuk menyatakan kedatangan Kristus kedua kali (2 Tes. 2:8; 1 Tim.
6:14; 2 Tim. 4:18; Tit. 2:13). Apokaliptik dari kata kerja Apokalypo yang
berarti aku buktikan, aku singkapkan, aku nyatakan. Kata ini digunakan untuk
menunjuk kepada kedatangan Kristus kembali atau kedatangan-Nya kembali (2 Tes.
1:7; 1 Ptr. 1:7, 13; 4:14).[29]
Hal tentang kedatangan Kristus yang kedua kali ini
telah digambarkan dalam Perjanjian Baru, bahwa ketika Ia naik ke surga, Ia juga
akan datang kembali seperti yang telah dijanjikan dalam Alkitab. Derek Prime menyatakan
bahwa: “Kristus akan datang kembali seperti yang dijanjikan, pada suatu saat
yang tidak diberitahukan kepada kita, dan dengan cara seperti Ia kelihatan naik
ke sorga”.[30] Kedatangan-Nya tidak diberitahukan kepada
manusia, tetapi yang pasti bahwa Ia akan datang sesuai dengan yang Ia janjikan.
Cara kedatangan-Nya yaitu sama dengan
kenaikan-Nya ke sorga. Calvyn
Taunaumang menyatakan bahwa, ada tiga hal yang
terkait dengan waktu kedatangan Kristus kedua kali: (1). Kedatangan Kristus
kembali adalah misteri Allah (Mat. 24:36). (2). Kedatangan Kristus adalah
waktu-Nya; (3). Kedatangan Kristus seperti pencuri.[31] Sungguh benar
yang dinyatakan oleh Alkitab bahwa kedatangan-Nya tidak ada manusia yang
mengetahui hal itu.
Dalam sepanjang sejarah kedatangan Kristus yang kedua
kali memperoleh kedudukan yang penting. Anthony Hoekema menyatakan bahwa:
“Sepanjang Alkitab peristiwa kedatangan Kristus yang
kedua kali memperoleh kedudukan yang penting.
Sekalipun kedatangan yang pertama dan kedua sering digabungkan dengan
begitu erat dalam nubuat Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru menyebut doktrin
ini lebih dari tiga ratus kali”.[32]
Dalam sejarah Alkitab baik Perjanjian Lama yang
menubuatkan maupun dalam Perjanjian Baru peristiwa kedatangan Kristus yang
kedua kali sangat penting dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dalam Alkitab dikatakan bahwa kedatangan-Nya
sama seperti pencuri, dalam arti tidak ada satu pun yang tahu tentang
kedatangan-Nya. Tetapi di sisi lain juga
kedatangan Kristus ini tidak boleh disamakan dengan pencuri, sebab jikalau
kedatangan pencuri tidak diberitahu sebelumnya.
Tetapi kedatangan Kristus telah diberitakan dalam Alkitab. Paul
Minear menyatakan bahwa:
“The coming of
Christ is not the same as a thief, because the arrival of it will only make
people much richer than before. Denngan Thus, gambara about the thief on the
one hand represents the notion that the second coming of Christ can not be
known, on the other hand, we must always be ready to welcome the return of
Christ.[33] (Kedatangan
Kristus tidaklah sama dengan pencuri, sebab kedatangan tersebut justru akan
membuat orang itu jauh lebih kaya daripada sebelumnya. Denngan demikian,
gambara tentang pencuri itu di satu pihak mewakili pengertian bahwa kedatangan
Kristus yang kedua tidak dapat diketahui, di pihak lain, keharusan kita untuk
senantiasa siap menyambut kedatangan Kristus kembali)”.
Maksud dari kedatangan Kristus yang digambarkan
sebagai pencuri ialah bahwa tidak ada yang tahu satu manusia pun di muka bumi
ini tidak ada yang tahu. Dan hal ini
membuat orang-orang percaya untuk senantiasa menantikan dan menyambut
kedatangan Kristus kedua kali. Lebih
lanjut Calvyn
Taunaumang menyatakan
bahwa, “ada beberapa cara kedatangan Kristus kembali yang
tercatat dalam Alkitab adalah: (1). Dengan segala kekuasaan dan kemuliaan (Mat.
24:30; Mrk. 13:26; Luk. 21:27); (2). Diiringi bunyi sangkakala (1 Tes. 4:16);
(3). Di tengah awan-awan di langit (Mrk. 14:62); (4). Seperti Dia naik ke
Sorga.”[34]
Alkitab menyatakan bahwa tidak ada satu pun makhluk di
muka bumi ini yang tahu tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Selain itu Alkitab katakana bahwa hanya Allah
Bapa yang tahu tentang kedatangan-Nya. “Bahwa
sesuai dengan berita Alkitab tidak satupun disebutkan tentang, “tanggal, bulan
dan tahun,” akhir zaman atau kedatangan Kristus kembali. Alkitab hanya
menegaskan kepastian Kristus datang kembali, soal kapan saatnya tiba itu
sepenuhnya adalah ketetapan Bapa dan waktu Bapa sendiri.”[35] Kedatangan Kristus
kembali berbeda dengan kedatangan-Nya yang pertama. Di dalam
Alkitab dikatakan bahwa dalam kedatangan-Nya kembali dipenuhi
dengan kekuasaan dan kemuliaan, serta disaksikan seluruh umat manusia,
sebagaimana Ia naik ke Sorga. R.
Soedarmo menyatakan bahwa
“Cara
Tuhan Yesus Kristus akan datang kedua kalinya. Ia akan datang kembali dengan
segala kemuliaan. Tugas untuk mencapai perdamaian antara Allah dan manusia
telah diselesakan-Nya dalam hidup-Nya di antara manusia dan dilanjutkan di
sebelah tangan kanan Allah Bapa. Pekerjaan pengumpulan Kerajaan-Nya akan
telah selesai kalau Ia akan datang kembali sebagai Kepala umat manusia baru,
sebagai Raja yang telah menang untuk meresminkan segala kuasa-Nya, baik di
Sorga maupun di atas bumi”.[36]
Kedatangan Kristus yang kedua kali adalah kedatangan
yang dipenuhi dengan segala kemuliaan.
Ia datang untuk menyelesaikan tugas perdamaian antara Allah Bapa dan
manusia. Kedatangan-Nya yaitu untuk
mengumpulkan umat yang telah ditebus oleh darah-Nya yang mahal. Kedatangan-Nya yang kedua kali yaitu
kedatangan sebagai Kepala seluruh umat yang percaya kepada-Nya. Kedatangan-Nya juga menyatakan bahwa Dia Raja
yang telah menang dan Ia meresmikan segala kuasa-Nya, baik di sorga maupun di
bumi. Harun Hadiwijono menyatakan bahwa:
“Ada perbedaan di antara kedatangan Kristus yang
pertama dan kedatangan-Nya yang kedua.
Ketika Ia datang dalam daging atau menjadi manusia masih banyak hal yang
dirahasiakan, sehingga banyak orang yang tidak tahu siapa sebenarnya Dia itu.
Banyak orang yang tersandung kepada-Nya, dan lain sebagainya. Akan tetapi
kedatangan-Nya yang kedua kali itu akan terjadi di dalam kemuliaan. (1 Tes.
3:13; 4:15). Segala rahasia pada waktu
itu akan terbuka. Kedatangan-Nya dalam
kemuliaan itu akan disaksikan oleh orang di seluruh dunia (Mat. 24:27, 30).”[37]
Kedatangan Kristus yang pertama berbeda dengan
kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam
kedatangan-Nya yang pertama Ia datang dengan kehinaan yaitu dilahirkan di
kandang domba dan banyak hal yang tidak dapat dipahami pada saat itu, sehingga
banyak orang yang tidak mengenal siapa Dia sesungguhnya. Tetapi, kedatangan-Nya yang kedua kali dalam
Alkitab dikatakan bahwa kedatangan yang penuh dengan kemuliaan. Seluruh umat manusia di muka bumi ini melihat
dan menyaksikan kedatangan-Nya.
Kedatangan-Nya yang kedua kali yaitu kedatangan sebagai Raja yang penuh
dengan kemuliaan, dan pada waktu kedatangan-Nya kedua kali segala rahasia akan
terbuka, salah satunya bahwa seluruh umat manusia melihat Dia sebagai Tuhan
yang berkuasa dengan penuh kemuliaan.
Kedatangan Kristus juga merupakan aspek yang sangat
penting dalam eskatologi Perjanjian Baru.
Anthony A. Hoekema menyatakan
bahwa:
“Pengharapan
kedatangan Kristus yang kedua kalinya adalah aspek yang paling penting dari
eskatologi Perjanjian Baru – sedemikian pentingnya sehingga iman Perjanjian
Baru didominasi oleh pengharapan ini. Setiap Kitab Perjanjian Baru mengarahkan
mata kita pada kedatangan Kristus kembali dan mendorong kita untuk senantiasa
siap menyambut kedatangan-Nya.”[38]
Pusat pembicaraan
dalam sejarah Perjanjian Baru ialah mengenai Kristus yang menyangkut tentang
kelahiran-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya dan
kedatangan-Nya kembali sebagai tugas yang terakhir dan yang akan Ia laksanakan. Kedatangan Kristus ini dalam setiap kitab
dalam Perjanjian Lama selalu dibicarakan dan ini mengindikasikan bahwa
kedatangan-Nya sangat penting bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Ini membawa setiap umat percaya senantiasa
siap sedia menyambut kedatangan-Nya.
E. PERSOALAN ORANG YAHUDI, ANTI-KRIST
DAN JUMLAH 666
Dalam pemahaman orang Yahudi ada dua zaman dalam
sejarah umat manusia. Zaman dalam
pemahaman orang Yahudi ialah zaman sekarang yaitu menurut mereka zaman yang
penuh kejahatan dan zaman yang akan segera datang yaitu zaman keemasan
Allah. Calvyn Taunaumang menyatakan bahwa:
“Orang
Yahudi memahami bahwa mereka hidup pada 2 zaman, yaitu zaman sekarang
(seutuhnya jahat) dan zaman yang akan datang (keemasan Allah). Di antara kedua
zaman tersebut ada “hari Tuhan” yaitu ketika Allah berkarya dan menghancurkan
dunia untuk kemudian membangunnya kembali”.[39]
Persoalan orang Yahudi ialah persolan mengenai zaman
dalam dua bagian yaitu zaman yang jahat dan zaman yang akan datang yaitu zaman
kebaikan Allah. Dalam eskatologi orang
Yahudi memahami dan mengakui bahwa ada dua zaman dalam sejarah dunia ini di
mana pada zaman sekarang ini yaitu zaman yang penuh dengan pembuat-pembuat
kejahatan dan zaman keemasan Tuhan, di mana Allah akan menyatakan kemuliaan-Nya
dan menghukum orang-orang yang durhaka dan memberikan hidup kekal bagi
orang-orang benar.
Dalam kejadian pada akhir zaman, ada beberapa hal yang
akan terjadi. Salah satu yang akan
muncul pada saat itu ialah antikristus, yaitu orang-orang yang menyangkal iman
kepercayaannya kepada Kristus. Chris Marantika menyatakan bahwa, “Dalam Alkitab juga dikatakan
bahwa, sebelum Ia datang kembali akan ada orang-orang yang berbalik imannya,
mereka yang tadinya beriman kepada Kristus menjadi tidak percaya dan
menyangkali-Nya, orang-orang seperti ini adalah anti Kristus”.[40] Dalam Alkitab dikatakan bahwa sebelum
kedatangan Kristus yang kedua kali akan muncul orang-orang yang menyangkal
imannya dan tidak percaya kepada Kristus.
Dalam Alkitab dikatakan bahwa banyak orang yang murtad, yang sebelumnya
percaya kepada Kristus dan pada akhirnya mereka menyangkal dan tidak percaya
kepada Kristus. Swindoll
Walvoord Pentecost menyatakan bahwa:
“Seorang
antikristus bisa punyai dua penegasan dari bahasa Yunani anti. Kata itu bisa berarti “dia yang menentang Kristus” atau “dia yang datang sebagai pengganti Kristus”. Nah, kata-kata ini tidak terpisah. Kata-kata
itu berkelindan, dan yang ini yang datang adalah karya unggul penipuan Satan di
dalam mana Satan akan berkata kepada dunia, “Yang ini pangeran damaimu”. Ia bisa
mencari jalan keluar bagi kerusuhan politik dunia, dan jika kau menyertakan
dirimu kepada wewenang politiknya, ia akan mengadakan pemerintahan damai di
sini di bumi”.[41]
Dalam pengertian antikristus dalam bahasa Yunani, bisa
diartikan sebagai penentang Kristus atau menyatakan diri sebagai Kristus. Antikristus akan menyatakan dirinya sebagai
Kristus, ia akan memakai hal-hal yang kelihatan nikmat dalam mata manusia,
sehingga banyak manusia juga yang akan tersanding dan mengikutinya. Antikristus akan berusaha melakukan berbagai
hal supaya ia bisa berkuasa atas seluruh yang hidup di muka bumi ini.
Kedatangan antikristus ini ialah tanda-tanda tentang
akhir zaman. John
F. Walvoord menyatakan bahwa, “ada beberapa
tanda-tanda akhir zaman yaitu: kristus-kristus palsu; perang dan kabar-kabar
tentang perang; kelaparan; penyakit sampar; gempa bumi; kesyahidan dan
penganiayaan; nabi-nabi palsu; meningkatnya kejahatan dan hilangnya kasih yang
hangat; Injil Kerajaan”.[42] Selain
daripada antikristus ada juga hal-hal lain yang akan terjadi pada akhir zaman,
yaitu perang dunia akan terjadi, kelaparan, penyakit sampar, gempa bumi dan
datangnya nabi-nabi palsu yang sama dengan antikristus.
Antikristus adalah penentang Kristus, ia menentang
Kristus sebab ia ingin menjadi sama seperti Kristus dengan caranya, ia
melakukan hal-hal yang nikmat dalam penglihatan dunia supaya manusia percaya
kepadanya. Charles
C. Ryrie menyatakan bahwa “Antikris adalah sebutan yang
paling dikenal sebagai individu yang akan berupaya menguasai dunia dan
menentang Kristus dalam masa kesengsaraan dan penganiayaan”.[43] Usaha daripada
antikristus ialah berupaya menguasai dunia, ia ingin menguasai seluruh isi muka
bumi ini dalam berbagai bidang politik, dan pada akhirnya nanti antikristus
akan menentang Kristus pada masa kesengsaraan dan penganiayaan, ia tidak
mengakui Kristus yang sesungguhnya dan bahkan ia mengaku dirinya sebagai
Kristus. Simon J. Kistemaker menyatakan bahwa, “Antikristus akan mengendalikan
seluruh kehidupan melalui para pemimpin dunia.
Mereka dengan sukarela dan dengan segenap hati mengabaikan diri dan
bangsa mereka di bawah antikristus.”[44] Antikristus melakukan dengan berbagai hal
dengan tujuan untuk menaklukkan dunia di bawah kuasanya. Ia ingin berkuasa dan menguasai seluruh isi
bumi dengan berbagai hal ia lakukan.
Antikristus mempunyai lambang yaitu 666. Lambang 666 ini merupakan lambang antikristus
yang menyatakan diri sebagai Kristus dan yang ingin berkuasa atas bumi. Charles
C. Ryrie menyatakan bahwa:
“Dalam
Wahyu 13 kita menemukan lambang yang terkenal, yang menggambarkan sifat-sifat
dan kepribadiannya, yaitu “binatang buas” dan bilangannya, enam ratus enam
puluh enam”, dan “tanda atau nama binatang itu”. Banyak spekulasi di seputar
bilangan 666 itu. Jelas dari Kitab Wahyu bahwa mereka yang masih hidup dalam
masa kesengsaraan akan memahami arti dari bilangan tersebut. Untuk sementara
waktu ini, demi amannya kita hanya bisa menganggap bahwa angka 6 berada satu
angka di bawah bilangan Allah, yaitu bilngan kesempurnaan – angka 7. Kalau
Allah Tritunggal bisa disebutkan dengan bilangan 777, maka bilangan untuk Setan
atau Iblis “sang “Bapak”, Antikris “si anak” dan Nabi Palsu (roh kegelapan)
adalah 666”.[45]
Dalam Alkitab ada seorang yang terkenal yang
melambangkan antikristus yaitu binatang buas dengan bilangannya enam ratus enam
puluh enam. Angka 666 dalam Alkitab
adalah lambang tentang antikristus yang akan bangkit pada akhir zaman dan
menentang Kristus. Robert L. Thomas menyatakan
bahwa “666 describes a person who has
such an evil character which is owned by the rulers of the Roman empire, namely
Nero, Caligula, and others. 666's ruler will emerge during the tribulation.
[46] (angka
666 menerangkan seorang pribadi yang memiliki karakter jahat seperti yang
dimiliki oleh para penguasa kerajaan Romawi, yaitu Nero, Caligula, dan
lain-lain. Penguasa 666 itu akan
muncul pada masa tribulasi”). Pribadi yang
memiliki karakter yang jahat ini dalam Alkitab dilambangkan seperti penguasa
kerajaan Romawi yaitu Nero dan yang lain yang memiliki karakter yang jahat
seperti antikristus. yang akan muncul pada akhir zaman. John
F. Walvoord menyatakan bahwa:
“The most relevant is the notion that the
Bible is a human number 666 (Rev. 13:18). Reduction of the number six is the
perfect number, seven, because God worked for six days and on the seventh day
beristirihat. However understanding the numbers, that is certain is that the
Bible refers to the Antichrist 666 single that appeared on the future, namely
the tribulation period (1 Jn. 2:18; Why. 13:18). [47] (Pengertian yang
paling relevan ialah bahwa menurut Alkitab angka 666 merupakan bilangan manusia
(Why. 13:18). Angka enam
merupakan pengurangan dari angka sempurna, tujuh, sebab Allah bekerja selama
enam hari dan beristirihat pada hari ketujuh. Bagaimanapun pengertian angka
itu, yang pasti adalah bahwa menurut Alkitab bilangan 666 menunjuk kepada
Antikristus tunggal yang muncul pada masa depan, yaitu masa tribulasi (1 Yoh. 2:18; Why. 13:18)”.
Bilangan 666 merupakan bilangan manusia yang
melambangkan tentang seorang pribadi yang memiliki karakter yang jahat. Ada berbagai pandangan para ahli tentang
pengertian angka tersebut. Angka 666 ini
dalam Alkitab benar-benar menunjuk kepada pribadi antikristus yang akan muncul
pada akhir zaman. Dwight Pentecost menerangkan
bahwa:
“Apabila tampil sebagai
kepala pemerintahan dunia si pendurhaka (antikristus) itu akan mendirikan
ekonomi satu dunia. Binatang itu tidak saja menuntut penyerahan mutlak
kekuasaaan politik, tetapi juga penyerahan mutlak wewenang ekonomi sehingga
tidak ada orang yang bisa membeli atau menjual apa pun kecuali mereka yang
mengenakan tanda penyerahan kepada wewenangnya, yaitu bilangan 666”.[48]
Ketika antikristus menjadi kepala pemerintahan dunia,
ia akan mendirikan usaha satu ekonomi dalam seluruh dunia. Orang durhaka ini sungguh-sungguh menuntut
semua kekuasaan politik dan ia dengan usaha ingin menguasai seluruh bidang
dalam seluruh dunia, dalam arti hanya dia yang berkuasa dalam bidang apa pun di
seluruh dunia. Antikristus bisa
dikatakan bahwa dia adalah pemimpin dunia yang menguasai seluruh dunia dalam
bidang politik. William W. Menzies dan Stanley M. Horton menyatakan bahwa,
“Pemimpin duniawi dari masa kesengsaraan besar, musuh
utama Kristus ialah Antikristus. Dalam
bahasa Yunani kata “anti” mempunyai makna pokok “sebagai pengganti”, bahkan
“melawan”, ia tidak akan menyebut dirinya sendiri antikristus – ia akan
menyatakan bahwa dialah Kristus yang sesungguhnya.”
Antikristus tidak menyatakan bahwa dia adalah
antikristus, melainkan ia menyatakan dirinya bahwa dia adalah Kristus. Pada akhir zaman yang akan datang hanya ada
dua golongan orang yaitu orang benar dan orang fasik yang memiliki nasib
masing-masing. Jeff Hammond dan Annete Hammond menyatakan bahwa:
“Manusia yang hidup sampai saat Kristus kembali
hanyalah 2 golongan: (a). Gereja sempurna yang diangkat bersama orang percaya
sejak Adam yang dibangkitkan dalam kebangkitan pertama; (b). Segala orang yang
menerima angka 666. Nasib penerima 666
jelas sekali dalam Alkitab, mereka dibinasakan dalam kedatangan Yesus (2 Tes.
1:7-10).”[49]
Dalam Alkitab dikatakan bahwa seluruh orang yang
menerima angka 666 tersebut dari antikristus akan dibinasakan. Hadia bagi mereka yang menerima tanda 666 ini
adalah kebinasaan dan penyiksaan untuk selama-lamanya.
F. WAKTU ANTI-KRIST
Antikristus adalah penentang Kristus atau yang menyatakan dirinya
sebagai Kristus dan bahwa dia adalah Allah yang berkuasa atas seluruh
bumi. Waktu antikristus ialah waktu yang
mereka pergunakan untuk menganiaya umat Allah yang percaya kepada Tuhan. Mereka berusaha untuk berkuasa atas
orang-orang beriman yang percaya kepada Tuhan.
Dalam Alkitab berbagai macam yang akan terjadi pada waktu akhir zaman,
terutama tentang kedatangan antikristus.
Anthony A. Hoekema menyatakan
bahwa:
“Dalam
periode tujuh tahun ini, sementara gereja masih berada di sorga, sejumlah
peristiwa akan terjadi di bumi: (1). Masa kesengsaraan sebagaimana telah
dinubuatkan dalam Daniel 9:27 akan digenapi; setengah dari masa itu disebut masa kesusahan besar (great tribulation); (2). Antikristus (binatang yang muncul
dari dalam laut) akan memulai pemerintahannya yang sangat kejam – suatu
pemerintahan yang pada akhirnya menuntut manusia untuk menyembahnya sebagai
Allah; (3). Penghakiman
besar-besaran akan melanda seluruh bumi, termasuk sebagian dari orang-orang
yang tidak percaya yang berada dalam gereja; (4). Sejumlah umat pilihan dari bangsa
Israel akan diselamatkan, bersama-sama dengan sejumlah besar orang-orang
non-Israel; (5). Raja-raja
bumi, bala tentara binatang itu, dan nabi palsu akan bersatu untuk menganiaya
umat Allah.[50]
Dalam Alkitab dikatakan
bahwa pada waktu gereja masih berada di sorga, sejumlah peristiwa-peristiwa
akan terjadi di muka bumi ini. Masa
kesengsaraan di bumi yang telah dinubuatkan dalam Kitab Daniel akan terjadi
pada masa itu, masa ini disebut masa kesusahan besar. Jika pada mulanya antikristus memulai
pekerjaannya dengan melakuakn perbuatan-perbuatan yang kelihatan baik dalam
pandangan manusia, kini saatnya ia akan menyatakan diri dan membentuk
pemerintahannya yang sangat kejam.
Pemerintahannya yang sangat kejam ini akan berakhir dengan manusia
menyembah dia sebagai Allah. Masa
penghakiman besar-besaran akan terjadi di seluruh dunia, dan seluruh raja-raja
bumi akan bersatu dengan tentara binatang itu serta nabi-nabi palsu untuk
menganiaya umat Allah. Mereka bersatu
untuk memperoleh kekuatan dalam menganiaya umat yang percaya kepada Tuhan. Usaha ini dilakukan dengan cara bekerja sama
dengan pihak-pihak yang lain.
Dalam Alkitab telah
dinyatakan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, akan didahului
oleh kedatangan antikristus, yaitu orang-orang yang murtad dan tidak percaya
kepada Kristus sebagai Tuhan. Derek Prime menyatakan
bahwa, “Pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kalinya akan akan didahului
dengan datangnya banyak orang antikristus (1 Yoh. 2:18). Banyak orang akan
murtad dan ajaran-ajaran palsu akan bertambah-tambah”.[51] Waktu
kedatangan Kristus akan didahului dengan berbagai-bagai kejahatan. Banyak orang yang murtad, yang sebelumnya
mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, tetapi pada akhirnya
mereka akan murtad dan menjadi penentang-penentang Kristus. Mereka tidak mengakui Kristus sebagai Tuhan
dan Juruselamat mereka dan bahkan mereka menyatakan bahwa mereka adalah
Kristus.
Antikristus selalu berusaha untuk mengupayakan sebuah
kesatuan dunia. Antikristus menginginkan
supaya dunia bersatu dalam menyembahnya dia sebagai Allah yang benar. Charles
C. Ryrie menyatakan bawa “Antikris akan mengupayakan sebuah
kesatuan di dunia dengan hanya satu agama dunia, satu sistem ekonomi dunia, dan satu
pemerintahan dunia”. Tujuan antikris
ialah “damai demi apa pun 1 Tes. 5:3.”[52] Salah satu upaya atau usaha daripada antikristus ialah
menyatukan dunia menjadi satu agama dunia yaitu agama yang menyembah kepadanya
dan antikristus juga mengupayakan supaya segala sesuatu bersatu baik dalam
bidang ekonomi dan juga dalam bidang pemerintahan. Motto daripada antikristus ialah “damai demi
apa pun 1 Tes. 5:3”, hal ini akan dinyatakan oleh antikristus yang kelihatan
baik demi kedamaian, tetapi di sisi lain tujuan ini akan membawa kepada
kebinasaan.
Iblis adalah antikristus
yaitu penentang-penentang dan penganiaya umat yang percaya kepada Kristus. Derek
Prime menyatakan bahwa:
“Iblis adalah musuh
besar Allah dan manusia, yang menentang segala yang baik dan membuat
bertambah-tambah segala yang jahat. Ia
sudah dikalahkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Kekalahan ini akan
diselesaikan kepada semua orang pada akhir zaman.”[53]
Karakter daripad antikristus ialah penentang segala
yang baik. Waktu antikristus memerintah,
ia akan menentang segala sesuatu yang baik dan benar, ia menyatakan dirinya
bahwa hanya dia yang benar dan baik dan di luar daripada dirinya tidak ada yang
baik, sehingga hal-hal yang baik yang datang dari luar dirinya akan
ditentang. Dalam menyatukan dunia,
antikristus akan memaksa seluruh umat manusia untuk menyembah kepadanya. David
Breese & Thomas N. Davis menyatakan bahwa,
“Agama Antikristus bersifat represif sebab setiap orang yang tidak menyembah
binatang itu akan dibinasakan secara kejam dan tidak manusiawi (Why. 13:10)”.[54] Agama yang
dibentuk oleh antikristus adalah agama yang mengekang yaitu memaksa dan setiap
orang yang tidak menyembah kepadanya akan dibinasakan secara kejam dan tidak
manusiawi. Kekejaman ini akan terjadi
pada waktu antikristus menyatakan dirinya yang sesungguhnya. Antikristus akan menindas setiap orang yang
tidak tunduk kepadanya. Harold Wilmington menyatakan
bahwa:
“According to the Bible impending doom that
have never experienced this weary world. And although the period of time in the
future is just a short, period of time it will destroy the earth's population
more than all the other plagues which were merged into one. [55] (Menurut Alkitab
akan datang malapetaka yang belum pernah dialami dunia lelah ini. Dan meskipun
kurun waktu di masa mendatang ini hanya pendek saja, kurun waktu itu akan
memusnahkan lebih banyak populasi bumi daripada semua malapetaka lain yang
digabung menjadi satu.)”
Hal yang akan terjadi pada waktu antikristus adalah
hal yang tidak pernah terjadi dalam dunia ini.
Hal ini sangat mengerikan sebab manusia tidak pernah mengalami hal yang
akan terjadi pada waktu antikristus itu datang.
Yang pada awalnya kelihatan baik kini akan menjadi penyiksaan atas
manusia. Chris Marantika menyatakan bahwa:
“Pada
mulanya semuanya kelihatan berlangsung dengan baik. Seorang manusia tampil
untuk menjadi pemimpin dan memerintah di dunia, dan setiap orang menganggap
orang itu baik. Dia akan menjadi pemerintah di atas dunia. Tetapi dia yang
kelihatan baik dan pandai itu, hatinya sudah dikuasai setan, sebab dialah Anti
Kristus”.[56]
Pada mulanya sistem pemerintahan antikristus ini
memang sangat kelihatan baik, tetapi pada ujung-ujungnya akan membawa kepada
penyiksaan yang dia lakukan sendiri atas seluruh manusia. Penampilan antikristus pada mulanya adalah
menampilan yang sangat baik dan menarik hati manusia sehingga banyak manusia
yang tersandung dan ikut menyembah dia sebagai tuhannya. Ia yang kelihatan baik dan pandai, tetapi
hatinya telah dikuasai oleh iblis dan dia adalah antikristus.
Dalam Alkitab juga antikristus dinamakan sebagai orang
durhaka. Tj. Boersma menyatakan bahwa:
“Yang dimaksud dengan manusia durhaka dalam 2 Tes. 2
ialah si anti-Kristus yang akan menyatakan diri sebagai Allah. Ia akan duduk di Bait Allah. Ia akan muncul
dari gelombang anarki. Pada saat itu semua orang yang benar-benar percaya sudah
diangkat ke sorga.”[57]
Orang durhaka yang dimaksud dalam 2 Tim. 2 ialah
antikristus yang akan menyatakan dirinya sebagai Allah. Ia akan melakukan hal-hal yang mungkin dalam
mata manusia kelihatan baik, tetapi perbuatannya ini sesungguhnya telah
dikuasai oleh iblis yaitu pembuat kejahatan yang keji di mata Allah Sang
Pencipta. Ada berbagai
peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada waktu kedatangan antikristus. K.
Price Walter menyatakan bahwa:
“There are eight events at the coming of the
antichrist, namely: (a). anger; (b). violence; (c). underestimate God Yahweh;
(d). pollution of the temple; (e). statue in the temple; (f). a great
persecution against the Jews; (g). declare themselves as gods; and (h).
defeated by saints. [58] (Ada delapan
peristiwa-peristiwa pada waktu kedatangan antikristus, yaitu: (a). murka; (b).
kekerasan; (c). meremehkan Allah Yahweh; (d). pencemaran terhadap bait
suci; (e). patung di dalam bait suci; (f). penganiayaan yang hebat terhadap
bangsa Yahudi; (g). menyatakan diri sebagai allah; dan (h). dikalahkan oleh
orang-orang kudus)”.
Seluruh peristiwa-peristiwa yang akan datang pada
waktu kedatangan antikristus melambangkan bahwa tidak ada satu pun hal baik
yang akan terjadi pada saat itu. Semua
yang diperbuat oleh antikristus adalah usaha untuk menentang Allah Sang
Pencipta. Ia menghina Allah Yahweh dan
menghina segala sesuatu yang baik atau suci serta menganiaya bangsa-bangsa
Yahudi dengan hebat dan ia menyatakan diri sebagai Allah, dan usaha mereka ini
akan dikalahkan oleh orang-orang kudus yaitu umat yang percaya kepada Allah
Khalik langit dan bumi.
Waktu antikristus ini adalah waktu di mana ia
menyatakan dirinya yang sesungguhnya, dia adalah penentang Kristus. John
F. Walvoord menyatakan bahwa, “Ia adalah “anti”
karena ia melawan Kristus dan berusaha menggantikan Kristus karena ia
ditawarkan oleh Iblis kepada dunia sebagai yang menggantikan Allah.”[59] Antikristus
datang untuk melawan Kristus dan ia berusaha untuk menggantikan kedudukan
Kristus. Ini mengindikasikan bahwa pada
zaman akhir akan banyak hal yang terjadi di atas muka bumi ini. Calvyn
Taunaumang menyatakan bahwa, “Pada akhir zaman akan
datang ancaman besar dan bahaya.”[60] Yang terjadi
pada akhir zaman bukan hanya mengenai kedatangan antikristus melainkan juga
terjadi kemerosotan moral yang hebat.
DAFTAR PUSTAKA
Archer, Gleason L., Encyclopedia of Bible Difficulties. Grand Rapisd: Zondervan
Publishing House. 1982.
Becker, Theol. Dieter., Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1996.
Bengel, John Alber., Bengel’s New Testament Commentary. Grand
Rapids: Kregel Publications. 1981.
Berkhof, Louis., Teologi Sistematika Vol. 6: Doktrin Akhir
Zaman. Surabaya: Momentum. 2008.
Borsma, Tj., Alkitab Bukan Teka-Teki: Ulasan Kristis
Tafsiran Nubuat Akhir Zaman. Surabaya: Momentum. 2000.
Breese, David & Thomas
N. Davis., Agama Dunia Yang Akan Datang.
Dalam Harmagedon. Batam: Gospel Press. 2003.
Hadiwijono, Harun Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
1999.
Hammond, Jeff & Annete
Hammond., Peta Zaman: Suatu Pelajaran
Mengenai Rencana Allah Dari Kekal Sampai Kekal dan Susunan Peristiwa-peristiwa
Akhir Zaman. Jakarta: Yayasan Pekabar Injil “Immanuel”. 1991.
Hoekema, Anthony A., Alkitab dan Akhir Zaman. Surabaya:
Momentum. 2004.
Hunt, Gladys., Pandangan Kristen Tentang Kematian. Jakarta:
BPK Gunung Mulia. 2009.
Kistemaker, Simon J., Tafsiran Kitab Wahyu. Surabaya: Momentum.
2009.
Ladd, George Eldon., Teologi Perjanjian Baru. Bandung:
Yayasan Kalam Hidup. 1999.
Marantika,
Chris., Kepercayaan
dan Kehidupan Kristen. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Theologia Injili
Indonesia. 1996.
Milne, Bruce., Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen. Jakarta:
Gunung Mulia. 2009.
Minear, Paul., Christian Hope and the Second Coming. Philadelphia:
Westminster. 1954.
Moltmann, Jurgen., Theology of Hope. New York: Harper and
Row. 1967.
Owens, John Jeseph., Analitycal Key to the Old Testament. Grand
Rapisd: Baker Book House. 1999.
Pandensolang, Welly., Eskatologi Biblika: Tinjauan Alkitabiah
Tentang Akhir Zaman. Yogyakarta: Andi Anggota IKAPI. 2013.
Pentecosct, Dwight., Si Antikristus: Siapa Pemimpin Dunia
Berikut? Dalam Jalan Menuju Armagedon. Batam: Interaksasa. 2000.
Pentecost, Swindoll Walvoord.,
Pengertian Alkitabiah Mengenai Nubuatan
dan Kejadian-Kejadian di Akhir Zaman: Jalan Menuju Armageddon. Batam:
Interaksara. 2000.
Prime,
Derek., Tanya
Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan Ilmuwan. Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih. 2001.
Robertson, Archibald Thomas.,
Word Pictures in the New Testament. Nashville:
Broadman Press. 1930.
Rogers, Cleon L., The New Linguistic and Exegetical Key to the
Greek New Testament. Grand Rapids: Zondervan Publishing House. 1998.
Ryrie, Charles C., Detik-Detik Akhir Menjelang Harmagedon. Batam:
Gospel Press. 2000.
., Teologi Dasar 2: Panduan
Populer Untuk Memahami Kebenaran Alkitab. Yogyakarta: Yayasan Andi. 1968.
Shedd, William G. T., The Doctrin Of Endless Punishment. New
York: Scribner. 1886.
Soedarmo, R., Ikhtisar Dogmatika. Jakarta: BPK Gunung
Mulia. 2011.
Taunaumang, Calvyn., Menguak Kebohongan Akhir Zaman. Bandung:
Bina Media Informasi. 2010.
Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas.
1997.
Thomas, Robert L., Revelation 8-22. An Exegetical. Chicago:
Moody Press. 1995.
Walter, K. Price., The Coming Antichrist. Chicago: Moody
Press. 1974.
Walvoord, John F., Penggenapan Nubuat Masa Kini – Zaman Akhir. Malang:
Gandum Mas. 1996.
., The
Revelation of Jesus Christ. Chicago: Moody Press. 1981.
Williamson, G.I., Pengakuan Iman Westminster. Surabaya:
Momentum. 2006.
Willmington, Harold., Guide to the Bible. Wheaton. Ill:
Tyndale House. 1981.
Wongso, Peter., Pengakuan-Pengakuan
Iman Kristen. Malang: Sekolah Alkitab Asia Tenggara. 1998.
[1]Calvyn
Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir
Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 34.
[2]Anthony
A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, cet.
1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 1.
[3]R.
Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, cet-17,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h.248.
[4]Louis
Berkhof, Teologi Sistematika Vol. 6:
Doktrin Akhir Zaman, cet. 7, (Surabaya: Momentum, 2008), h. 9.
[5]Jurgen
Moltmann, Theology of Hope, (New
York: Harper and Row, 1967), pg. 16.
[6]Charles
C. Ryrie, Teologi Dasar 2: Panduan
Populer Untuk Memahami Kebenaran Alkitab, (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1968),
h. 247.
[7]Ibid, h. 247-248.
[8]Bruce
Milne, Mengenali Kebenaran: Panduan Iman
Kristen, cet. 3, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), h. 349.
[9]R.
Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, cet-17,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h. 256.
[10]Gladys
Hunt, Pandangan Kristen Tentang Kematian,
cet. 6, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), h. 40.
[11]Theol.
Dieter Becker, Pedoman Dogmatika: Suatu
Kompendium Singkat, cet. 3, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), h. 197.
[12] Anthony A. Hoekema, Alkitab
dan Akhir Zaman, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 1.
[13]Welly
Pandensolang, Eskatologi Biblika, cet.
7, (Yogyakarta: Andi Anggota IKAPI, 2013), h. 89.
[14]William
G. T. Shedd, The Doctrin Of Endless
Punishment, (New York: Scribner, 1886), h. 612.
[15]Henry
C. Thiessen, Teologi Sistematika, cet.
4, (Malang: Gandum Mas, 1997), h. 521.
[16]G.I.
Williamson, Pengakuan Iman Westminster, cet.
1, (Surabaya: Momentum, 2006), h. 389.
[17]
Anthony A. Hoekema, Alkitab dan
Akhir Zaman, cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 525.
[18]Peter
Wongso, Pengakuan-Pengakuan Iman Kristen,
cet. IV, (Malang: Sekolah Alkitab Asia Tenggara, 1998), h. 23.
[19]George
Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, cet.
1, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), h. 256.
[20]Henry
C. Thiessen, Theology Sistematika, (Malang:
Gandum Mas, 1992), h. 591.
[21]Gleason
L. Archer, Encyclopedia of Bible
Difficulties, (Grand Rapisd: Zondervan Publishing House, 1982), pg. 367.
[22] Archibald
Thomas Robertson, Word Pictures in the
New Testament, (Nashville: Broadman Press, 1930), pg. 222.
[23]Louis
Berkhof, Teologi Sistematika Vol. 6:
Doktrin Akhir Zaman, cet. 7, (Surabaya: Momentum, 2008), h.
[24]Welly
Pandensolang, Eskatologi Biblika:
Tinjauan Alkitabiah Tentang Akhir Zaman, Cet. 7, (Yogyakarta: Andi Anggota
IKAPI, 2013), h. 89.
[25]John
Jeseph Owens, Analitycal Key to the Old
Testament, (Grand Rapisd: Baker Book House, 1999), 653.
[26]John
Alber Bengel, Bengel’s New Testament
Commentary, (Grand Rapids: Kregel Publications, 1981), pg. 330-331.
[27]Cleon
L. Rogers, The New Linguistic and
Exegetical Key to the Greek New Testament, (Grand Rapids: Zondervan
Publishing House, 1998), pg. 417.
[28]George
Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, cet.
1, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), h. 257-258.
[29] Calvyn
Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir
Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 36-37.
[30]Derek Prime, Tanya Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan
Ilmuwan, Cet. 5, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), h. 168.
[31]Calvyn
Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir
Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 45-48.
[32]Anthony
A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, cet.
1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 526.
[33]Paul
Minear, Christian Hope and the Second
Coming, (Philadelphia: Westminster, 1954), pg. 135-136.
[34] Calvyn Taunaumang, Menguak
Kebohongan Akhir Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. h.
42.
[35]Ibid., h. 55.
[36]R.
Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, cet-17,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h.253-254
[37]Harun
Hadiwijono, Iman Kristen, cet. 12,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), h. 479.
[38] Anthony A. Hoekema, Alkitab
dan Akhir Zaman, Cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 117.
[39]Calvyn
Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir
Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 49.
[40] Chris Marantika, Kepercayaan dan Kehidupan Kristen, Cet.
2, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia, 1996), h.
154.
[41]Swindoll
Walvoord Pentecost, Pengertian Alkitabiah
Mengenai Nubuatan dan Kejadian-Kejadian di Akhir Zaman: Jalan Menuju
Armageddon, (Batam: Interaksara, 2000), h. 111.
[42]John
F. Walvoord, Penggenapan Nubuat Masa Kini
– Zaman Akhir, Cet. 1, (Malang: Gandum Mas, 1996), h. 283-285.
[43]Charles
C. Ryrie, Detik-Detik Akhir Menjelang
Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2000), h. 197.
[44]Simon
J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, cet.
1, (Surabaya: Momentum, 2009), h. 515.
[45] Charles C. Ryrie, Detik-Detik
Akhir Menjelang Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2000), h. 199.
[46]Robert
L. Thomas, Revelation 8-22, An Exegetical
(Chicago: Moody Press, 1995), pg. 184.
[47]John
F. Walvoord, The Revelation of Jesus
Christ (Chicago: Moody Press, 1981), pg. 209-210.
[48]Dwight
Pentecosct, Si Antikristus: Siapa
Pemimpin Dunia Berikut? Dalam Jalan Menuju Armagedon, (Batam: Interaksasa,
2000), h. 113-117.
[49]Jeff
Hammond & Annete Hammond, Peta Zaman:
Suatu Pelajaran Mengenai Rencana Allah Dari Kekal Sampai Kekal dan Susunan
Peristiwa-peristiwa Akhir Zaman, cet. 6, (Jakarta: Yayasan Pekabar Injil
“Immanuel”, 1991), h. 76-77.
[50]
Anthony A. Hoekema, Alkitab dan
Akhir Zaman, Cet. 1, (Surabaya: Momentum, 2004), h. 224.
[51]Derek Prime, Tanya Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan
Ilmuwan, Cet. 5, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), h.
169.
[52]Charles
C. Ryrie, Detik-Detik Akhir Menjelang
Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2000), h. 201-202
[53]Derek Prime, Tanya Jawab Tentang Iman Kristen: Ramai Bicara di Kalangan Awam dan
Ilmuwan, Cet. 5, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), h.
163.
[54] David
Breese & Thomas N. Davis, Agama Dunia
Yang Akan Datang, Dalam Harmagedon, (Batam: Gospel Press, 2003), h. 180-182.
[55]Harold
Willmington, Guide to the Bible, (Wheaton,
Ill: Tyndale House, 1981), pg. 833.
[56]Chris Marantika, Kepercayaan dan Kehidupan Kristen, Cet.
2, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia, 1996), h.
157.
[57]Tj.
Borsma, Alkitab Bukan Teka-Teki: Ulasan
Kristis Tafsiran Nubuat Akhir Zaman, cet. 2, (Surabaya: Momentum, 2000),
195.
[58]K.
Price Walter, The Coming Antichrist, (Chicago:
Moody Press, 1974), pg. 100-131.
[59]John
F. Walvoord, Penggenapan Nubuat Masa Kini
– Zaman Akhir, Cet. 1, (Malang: Gandum Mas, 1996), h. 352.
[60]Calvyn
Taunaumang, Menguak Kebohongan Akhir
Zaman, Cet-1, (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), h. 49.
Comments
Post a Comment