PENDAHULUAN
A.
BELAJAR-MENGAJAR
Belajar :
Siswa
/pelajar
Bahan/materi
Tujuan/sasaran
Waktu/proses
Tempat/wadah
Individual/Kelompok
Dll
Mengajar :
Bahan
/materi?
Siswa/obyek
belajar ?
Tujuan/sasaran
?
Waktu/proses
?
Tempat/wadah
?
SK/Profesional/dasar
mengajar
dll
Pembelajaran :
Guru/Siswa
sekaligus
Waktu/proses
Bahan/materi
Tujuan/sasaran
Medode/strategi/cara/gaya
dll
B.
Belajar
/ Mengajar (Pembelajaran) unik dan Bernilai Edukatif
·
Beda dengan kegiatan
lain
·
Segala tindak tanduk
(suasana) yang terjadi di dalam kelas selama kegiatan pembelajaran antara anak didik dengan anak didik dan anak
didik dengan guru harus mendidik.
·
Semuanya harus positif
Tiga
aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lain:
1. Intelektual
:
Kemampuan
Kecerdasan
Pemikiran/mainsed
Nalar
Wawasan
Pengalaman
2. Psikologis
:
·
Jender
·
Keadaan Pisik
·
Kesehatan/cacat
3. Biologis
:
Kebutuhan
Selera
Hobby
C. Konsep strategi belajar mengajar
1. Pengertian Strategi Belajar Mengajar
Secara umum Strategi mempunyai pengertian: suatu garis-garis besar haluan, untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Bila dihubungkan
dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum
kegiatan guru-anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan.
empat
strategi dasar dalam belajar
mengajar yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan
kwalifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang
diharapkan.
Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan
aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan tehnik
belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat
dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya
Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan tehnik
belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat
dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya
Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan
atau kriteria serta standart keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh
guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar
D.
Strategi mengajar utama
1. Kuliah
Kebaikan :
Serasi untuk memberikan informasi kepada pendengar
yang berjumlah besar. Biaya kecil
Kelemahan :
Komunikasi satu arah, siswa pasif, menggunakan hanya
satu alat dria yaitu pendengaran, siswa tidak diharuskan berpikir, mengutamakan
hafalan, bahan kognitif tingkat rendah
2. Demonstrasi
Kebaikan :
Menyampaikan informasi kepada kelompok besar, hemat
biaya, bahan kognitif tingkat rendah.
Kelemahan :
Komunikasi satu arah, siswa “pasif”, memanfaatkan dua
alat dria (pendengaran dan penglihatan, mengutamakan ingatan).
3. Praktek/ Latihan
Kebaikan
Banyak menggunakan reinforcement, meningkatkan
ingatan, dapat digunakan dalam kelompok besar dan kecil.
Kelemahan :
Mengutamakan ulangan, nilai transfer minimal,
penerapan terbatas.
4. Diskusi-Bertanya
Kebaikan
Pertanyaan yang serasi mendorong siswa aktif berpikir
Kelemahan :
Hanya baik digunakan dalam kelompok kecil, menuntun
keterampilan merumuskan pertanyaan pikiran atau lacakan serta manajemen agar
siswa turut berpikir.
5. Analisis situasi-dilema/koflik
Kebaikan :
Siswa diharuskan menganalisis data sambil berpikir
kritis, juga dikembangkan dimensi efektif (nilai dan pendapat).
Kelemahan :
Sukar dilaksanakan dalam kelompok besar, menuntut
pertanyaan yang cermat dari pihak guru, dapat beralih ke-topik yang sangat
kontroversial
6. Inkuiri-Penemuan
Kebaikan :
Siswa disuruh melakukan eksperimen, menggunakan proses
ilmiah, partisipasi aktif siswa, melatih pemikiran analisis
Kelemahan :
Hanya dapat dalam kelompok kecil, memerlukan
perancanaan yang baik dan keterampilan manajemen kelas, siswa mudah menyimpang
perhatiannya
7.
kerja
lapangan
Kebaikan :
Memberi pengalaman langsung, melatih keterampilan
mengobservasi, mencatat data, menganalisis data dan menyusun laporan
Kelemahan :
Siawa harus dipersiapkan dengan baik, karyawisata
harus dipersiapkan jauh sebelumnya, sering memerlukan izin, ada kalanya
membutuhkan biaya / waktu yang lama.
8. Pemrosesan informasi
Kebaikan :
Membimbing siswa membentuk konsep, interpretasi data,
mengaplikasikan prinsip, mendorong siswa berpikir kritis
Kelemahan :
Menuntut teknik mengajar induktif yang sukar
direncanakan, memerlukan waktu banyak untuk memantau, memberi balikan dan
menilai.
9. Penelitian Akademis-Penggunaan informasi
Kebaikan :
Membimbing siswa melakukan pendekatan sistematis dalam
melakukan dalam melakukan identifikasi
dan evaluasi informasi, juga dalam melakukan pencatatan, analisis,
sintetis data, mengambil kesimpulan serta menyampaikannya.
Kelemahan :
Mengharuskan persiapan siswa yang cermat dan terinci,
memerlukan waktu sumber dan bahan yang banyak.
10. Pemecahan Masalah Action Research
Kebaikan :
Memberi latihan untuk membicarakan masalah personal,
sosial, lokal maupun global, menerapkan pengetahuan yang dimiliki, menggunakan
keterampilan kognitif dan akademis tingkat lebih tinggi
Kelemahan :
Memerlukan waktu untuk mengembangkan dasar pengetahuan
dan keterampilan akademis memerlukan cara berpikir divergen yang sukar di test
dan di evaluasi
11. Dramatisasi-bermain peran
Kebaikan:
Mendorong siswa untuk berpartisipasi pada taraf tinggi
yang melibatkan kognisi dan emosi
Kelemahan :
Menuntut keterampilan tinggi dari pengajar dalam
mempersiapkan siswa, juga dalam manajemen kelas, sering memerlukan waktu
banyak, menuntut dari semua siswa agar menjadi pengamat aktif.
12. Simulasi
Kebaikan :
Memberi kesempatan kepada siswa belajar dari akibat
perbuatannya sendiri, mengharuskan siswa berpartisipasi aktif penuh dan
menggunakan taraf belajar kognitif dan aktif tingkat lebih tinggi
Kelemahan :
Menuntut perencanaan cermat dan persiapan bahan
sumber, keberhasilan tergantung pada kesediaan dan kemampuan siswa menganalisis
kemampuannya sendiri, menuntut suasana kelas yang demokratis agar siswa tidak
takut mengambil resiko
13. Synectet
Kebaikan :
Mendorong siswa menjelajahi hal-hal yang tak biasa,
yang lain daripada yang lain, menciptakan suasana baru, merangsang siswa
mengadakan sintetis serta pertimbangan kritis kreatif
Kelemahan :
Sukar di evaluasi karena memerlukan kriteria yang
kompleks, pelaksanaannya membutuhkan waktu banyak
E. Sasaran Kegiatan Belajar Mengajar
·
Setiap
kegiatan belajar mengajar memiliki sasaran atau tujuan. Tujuan tersebut dapat
bertahap atau berjenjang yang dimulai dari yang sangat operasional/konkrit
yakni : Tujuan Instruksional Khusus dan Tujuan Instruksional Umum, tujuan
Kurikuler, Tujuan Nasional dan sampai kepada Tujuan yang bersifat Universal.
·
Tentang
Tujuan, konsepsi guru dan anak didik
mempengaruhi tujuan atau sasaran antara serta sasaran kegiatan. Tujuan/sasaran
harus diterjemahkan/diaflikasikan kedalam ciri-ciri prilaku/kepribadian yang
didambakan. Pada tingkat sasaran atau tujuan yang universal, manusia yang
didambakan/di-idam-idamkan tersebut harus memiliki kwalifikasi : a) Pengembangan bakat secara optimal, b)
Hubungan antar manusia, c) Efisiensi ekonomi dan d) Tanggungjawab selaku warga
nagara.
·
Pandangan
hidup para guru maupun anak didik akan turut mewarnai berkenan dengan gambaran
karakteristik sasaran manusia idaman. Konsekwensinya akan mempengaruhi
kebijakan akan perencanaan, pengorganisasian serta penilaian terhadap kegiatan
belajar mengajar.
F. Belajar mengajar sebagai suatu Sistem
·
Belajar
mengajar merupakan sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai
seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai suatu
tujuan. Meliputi :
·
tujuan,
·
bahan,
·
siswa,
·
guru,
·
metode,
·
situasi
·
evaluasi.
seorang
guru harus memahami segenap aspek pribadi anak didik seperti :
Kecerdasan
dan bakat khusus
Prestasi
awal
Perkembangan pisik dan psykhis (kesehatan)
Emosi dan
karakter
Sikap dan
motivasi belajar
Cita-cita/tujuan
Kebiasaan
belajar dan bekerja
Hobbi dan
penggunaan waktu senggang
Latar
belakang keluarga
Hubungan
sosial dan keluarga
Sifat
khusus dan kesulitan anak didik
G. Hakikat Proses Belajar
Belajar adalah
proses perubahan perilaku karena pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan
kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan,
keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.
H. Entering Behaviour Siswa
Hasil kegiatan belajar mengajar tercermin dalam
perubahan perilaku, baik secara material-substansial, struktural-fungsional
maupun secara behaviour.Yang dipersoalkan adalah kepastian bahwa tingkat
prestasi yang dicapai siswa itu apakah benar merupakan hasil kegiatan belajar
mengajar yang bersangkutan. Untuk kepastiannya seharusnya guru mengetahui
tentang karakteristik perilaku anak didik sebelum mereka masuk sekolah dan
mulai dengan kegiatan belajar mengajar
I. Implementasi Belajar mengajar.
Proses belajar
mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi.
Lingkungan itu diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan
tujuan pendidikan.Pengawasan itu turut menentukan lingkungan itu membantu
kegiatan belajar.Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang
dan merangsang para siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan
serta mencapai tujuan yang diharapkan.
guru dalam implementasi proses belajar mengajar adalah :
Perencanaan Instruksional, yaitu alat atau media untuk
mengarahkan kegiatan-kegiatan organisasi belajar.
Organisasi belajar yang merupakan usaha menciptakan
wadah dan fasilitas-fasilitas atau lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan yang
mengandung kemungkinan terciptanya proses belajar mengajar.
Menggerakkan anak didik sebagai usaha memancing,
membangkitkan dan mengarahkan motivasi belajar siswa.
Supervisi dan pengawasan, yakni usaha mengawasi,
menunjang, membantu, menugaskan dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar
sesuai dengan perencanaan instruksional yang telah didesain sebelumnya.
Berbagai upaya diusahakan menganalisa proses
pengelolaan belajar mengajar kedalam unsur-unsur komponen sebagai berikut:
Merencanakan, yaitu mempelajari masa mendatang dan
menyusun rencana kerja.
Mengorganisasi, yakni membuat organisasi, usaha menager,
tenaga kerja dan bahan.
Pengkoordinasian, yaitu menyatukan dan mengkorelasikan
semua kegiatan.
Mengawasi, memeriksa agar segala sesuatu dikerjakan
sesuai dengan peraturan yang digariskan dan instruksi-instruksi yang
diberikan.
KOMPONEN-KOMPONEN DALAM
STRATEGI PEMBELAJARAN
A.
Komponen-Komponen Dalam
Strategi Pembelajar
1. Strategi
Organisasi (Organization Strategi)
Strategi pengorganisasian
(organization strategy) adalah metode untuk mengorganisasikan isi bidang studi
yang telah dipilih untuk pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada suatu
tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format dan
lainnya yang setingkat dengan itu.
·
Tujuan
Tujuanny adalah suatu cita cita yang ingin dicapai dari
pelaksanaan suatu kegiatan. Kegiatan belajar mengajar tidak bisa dibawa sesuka
hati, kecuali untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
·
Bahan Pelajaran
Bahan penajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses
belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan
berjalan, oleh karena itu guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai
bahan pelajaran yang akan disampaikan.
·
Kegiatan belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu
yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam
kegiatan belajar mengajar guru seharusnya memperhatikan perbedaan individual
anak didik yaitu pada aspek intelektual, psikologis dan biologis.
·
Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode
diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat
melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satupun metode mengajar yang
telah dirumuskan dan dikemukan oleh para ahli dan pendidikan.
·
Alat
Alat Adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan dalam
rangka mencapai tujuan pengajaran. Segala sesuatu yang dapat digunakan dalam
mencapai tujuan pengajaran, yang mempunyai fungsi sebagai perlengkapan, sebagai
pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan
·
Sumber Pelajaran
sumber pelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan
pelajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.
·
Evaluasi, (evaluation)
Evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan
nilai dari sesuatu (Wand dan Brown).
Jadi evaluasi pendidikan diartikan sebagai suatu tindakan atau proses untuk
menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang
ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
B.
Strategi Pengelolaan (Management Strategy)
Pengelolaan
kelas adalah salah satu keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam
proses belajar mengajar. Dengan kata lain pengelolaan adalah kegiatan-kegiatan
untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi berlangsungnya
proses belajar mengajar
1.
Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu Pengelolaan dan
Kelas.Pengelolaan berasal dari kata ‘kelola’. Istilah lain dari pengelolaan
adalah “manajemen” yang artinya : ketata-laksanaan, tata pimpinan dan
pengelolaan.Sedangkan Kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan
belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru (Oemar Hamalik, 1987; 311).
Pendapat yang sejalan, Suharsimi Arikunto (1988; 17) mengatakan “sekelompok
siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang
sama. Louis V Johnson dan Mary A. Bani, yang dikutip oleh Made Pidarta,
mengatakan bahwa “Pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat- alat yang tepat terhadap problema dan situasi
kelas. Dalam hal ini, guru bertugas menciptakan, mempertahankan dan
memelihara sistim organisasi kelas.Sehingga siswa dapat memanfaatkan kemampuan, bakat dan energinya pada
tugas-tugas individual”.
2. Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya, telah terkandung di dalam
tujuan pendidikan.Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan
fasilitas dalam berbagai macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial,
emosional dan intelektual dalam kelas.Penyediaan fasilitas memungkinkan siswa
belajar dan bekerja secara maksimal.
3. Berbagai Pendekatan dalam
Pengelolaan Kelas
Berbagai pendekatan yang perlu dilakukan dalam pengelolaan kelas adalah
sebagai berikut, sebagaimana dikemukakan
Syaiful dkk, (2002; 201)
·
Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan “sebagai suatu proses untuk mengontrol
tingkah laku anak didik”. Peranan guru disini adalah menciptakan dan
mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.
·
Pendekatan Ancaman
pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol
tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik
dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya :
Ø melarang,
Ø ejekan
Ø sindiran
Ø memaksa
·
Pendekatan Pembebasan
Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu anak didik
agar merasa bebas untuk mengerjakan.Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin
pengawasan anak didik.
·
Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book),
ini dilakukan dengan memberi suatu
daftar yang dapat menggambarkan apa saja yang harus dan apa yang tidak boleh
dikerjakan oleh guru maupun siswa dalam mereaksi semua masalah atau situasi
yang terjadi di kelas.
·
Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini menganjurkan tingkahlaku guru dalam mengajar untuk
mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik.Peranan guru
adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
·
Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk
mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah
laku anak didik yang baik (positif) dan mencegah tingkah laku yang kurang baik
(negative).
·
Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial.
Menurut pendekatan ini pengelolan kelas merupakan suatu proses
menciptakan iklim atau suasana emosi dan hubungan sosial yang positif dalam
kelas. Suasana emosi dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan
yang positif antara guru dengan anak didik atau antara anak didik dengan anak
didik yang lain.
·
Pendekatan Proses Kelompok
Proses kelompok adalah usaha guru mengelompokkan anak didik kedalam
beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta
kelas yang efektif dalam belajar.
·
Pendekatan Electis dan Pluralistik
Pendekatan electis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu
pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang
memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang
memungkinkan proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Guru memilih dan
menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan
selama maksud penggunaannya untuk pengelolaan kelas.
4. Prinsip-Prinsip Pengelolaan
Kelas.
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas,
prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat difungsikan. Prinsip-prinsip tersebut
adalah sebagai berikut :
·
Hangat dan Antusias
Suasana hangat dan antusias diperlukan dalam proses
belajar mengajar. Guru yang dekat (hangat dan akrap) dengan anak didik selalu
menunjukkan sikap antusias pada tugas maupun aktivitasnya, akan berhasil dalam
mengimplementasikan pengelolaan kelas.
·
Tantangan
Penggunaan kata-kata/istilah asing atau benda-benda yang menantang akan
meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan
munculnya tingkahlaku yang menyimpang. Kemudian akan dapat menarik perhatian
anak didik dan dapat mengendalikan gairah belajar mereka
·
Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar, pola
interaksi akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian anak
didik. Apabila penggunaannya berfariasi sesuai dengan kebutuhan akan menghilangkan kejenuhan dan rasa bosan
dalam belajar.
·
Keluwesan
Keluwesan tingkahlaku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat
mencegah kemungkinan munculnya gangguan diantara anak didik serta menciptakan
iklim belajar mengajar yang efektif.Keluwesan pengajaran dapat mencegah
munculnya gangguan seperti keributan, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan
tugas dan lain sebagainya.Keluwesan dalam mengajar adalah menghindari adanya
ketegangan dalam suasana belajar.
·
Penekanan pada hal-hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar atau mendidik, guru harus menekankan pada
hal-hal yang bersifat positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang
negatif.Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan (reinforcement)
yang positif dan usaha dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang
dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
·
Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari kegiatan pendekatan “pengelolaan kelas” adalah
menumbuhkan dan mengembangkan disiplin anak didik.Oleh karena itu guru
sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk menerapkan disiplin dalam kegiatan
belajar-mengajardan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai
pengendalian diri sebagai pelaksana tanggungjawab.
C.
Strategi
Penyampaian (Deliever Strategy)
Kata “teach” atau
mengajar berasal dari bahasa Inggris Kuno, yaitu teacan. Kata ini berasal dari bahasa Jerman Kuno (Old Teutenic), taikjan, yang berasal dari kata dasar teik, yang berarti memperlihatkan.Kata tersebut ditemukan juga
dalam bahasa Sanskerta, dic yang
dalam bahasa Jerman Kuno dikenal dengan deik.Istilah
Mengajar (teach) juga
berhubungan dengan token yang
berarti tanda atau simbol.Kata token
juga berasal dari bahasa Jerman kuno, taiknom,
yaitu pengetahuan dari taikjan.Dalam
bahasa Inggris kuno taecan
berarti to teach
(mengajar).Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian
informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses penyampaian itu
sering dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Dalam konteks ini, mentransfer
tidak diartikan dengan memindahkan.
1. Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher
contered)
Dalam kegiatan belajar mengajar guru memegang peranan yang sangat
penting.Oleh
karena pembelajaran ini berpusat pada guru maka minimal ada tiga peranan guru
yaitu: sebagai perencana, penyampai informasi dan sebagai evaluator. Siswa
sebagai obyek belajar
Peranan siswa adalah sebagai penerima informasi yang diberikan guru.Sebagai
obyek belajar, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan siswa sesuai
dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gayanya, sangat
terbatas, sebab dalam proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan oleh
guru.
2. Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu
tertentu.
Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu misalnya di dalam
kelas dengan penjadwalan yang ketat sehingga siswa belajar manakala ada kelas
yang telah didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar (formal).
3. Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi.
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat
menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Materi pelajaran itu sendiri
adalah pengetahuan bersumber dari dari mata pelajaran yang diberikan di
sekolah. Sedangkan mata pelajaran itu sendiri adalah pengalaman-pengalaman
manusia masa lalu yang disusun secara sistimatis dan logis kemudian diuraikan
dalam buku-buku pelajaran dan selanjutnya dikuasai siswa.
A.
Peran
Guru
Guru menurut UU no. 14 tahun 2005 “adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”
Guru Sebagai Pendidik
Guru
Sebagai Pengajar
Guru Sebagai Pembimbing
Guru Sebagai Pelatih
Guru Sebagai Penasehat
Guru Sebagai Pembaharu (Inovator)
Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru Sebagai Pribadi
Guru Sebagai Peneliti
Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas
Guru Sebagai Pembangkit Pandangan
Guru Sebagai Pekerja Rutin
Guru Sebagai Pemindah Kemah
Guru Sebagai Pembawa Cerita
Guru Sebagai Aktor
Guru Sebagai Emansipator
Guru Sebagai Evaluator
Guru Sebagai Kulminator
Dalam
pengertian pendidikan secara luas, seorang guru
idealnya dapat berperan sebagai :
Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan
sumber norma kedewasaan
Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan
Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut
kepada peserta didik
Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai
tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses
interaksi dengan sasaran didik;
Organisator (penyelenggara) terciptanya proses
edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak
yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik,
serta Tuhan yang menciptakannya).
Dilain
pihak, Moh.Surya (1997) Peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat.
Di sekolah,
guru berperan sebagai :
perancang
pembelajaran,
pengelola
pembelajaran,
penilai
hasil pembelajaran peserta didik,
pengarah
pembelajaran dan pembimbing peserta didik.
Dalam
keluarga, guru berperan sebagai :
pendidik
dalam keluarga (family educator).
Di
masyarakat, guru berperan sebagai :
pembina
masyarakat (social developer),
penemu
masyarakat (social inovator),
dan
agen
masyarakat (social agent).
Dalam
hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru
berperan sebagai:
Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan
sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan
yang harus diajarkannya;
Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para
peserta didik
Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru
bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab
untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan
menjadi pewaris masa depan; dan
Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan
untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Di pandang
dari segi diri-pribadinya (self
oriented), seorang guru berperan sebagai:
Pekerja sosial (social
worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada
masyarakat;
Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus
senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan
keilmuannya;
Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta
didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku
yang harus dicontoh oleh para peserta didik; dan
Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta
didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut
pandang psikologis, guru berperan
sebagai :
Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan
seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
Seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya
guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar
manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan
pendidikan;
Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan
aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan
Comments
Post a Comment